Inovasi BNY Mellon di Pembiayaan Perdagangan Modern: Tantangan & Solusi
Key Points:
- BNY Mellon merevolusi pembiayaan perdagangan dengan Model Operasi Platform baru, mempercepat orientasi klien dan pemrosesan dokumen dari minggu menjadi hari.
- Otomatisasi KYC/AML melalui SIERA dan integrasi Eliza/Gemini secara signifikan mengurangi sentuhan manual, meningkatkan kecepatan, akurasi, dan kepatuhan dalam penanganan sanksi serta verifikasi koridor perdagangan.
- BNY menyesuaikan jaringan bank korespondennya untuk mendukung pergeseran koridor perdagangan global, termasuk tren near-shoring, friend-shoring, dan rute Selatan-Selatan yang relevan bagi ekonomi Indonesia.
- Manajemen modal kerja dihadapkan pada tekanan likuiditas akibat penyelesaian T+1, mendorong pentingnya efisiensi pembayaran dan optimasi imbal hasil deposit.
- Masa depan pembiayaan perdagangan mungkin melibatkan penyelesaian real-time menggunakan uang tunai terdigitalisasi (tokenized cash), menawarkan potensi efisiensi tinggi namun dengan tantangan regulasi dan interoperabilitas yang perlu diatasi, khususnya dalam konteks pasar berkembang seperti Indonesia.
Dunia pembiayaan perdagangan global terus berevolusi, didorong oleh inovasi teknologi, perubahan lanskap regulasi, dan pergeseran geopolitik. Dalam wawancara eksklusif dengan Global Finance, Joon Kim dari BNY Mellon memberikan wawasan mendalam mengenai bagaimana institusi keuangan terkemuka ini beradaptasi dan memimpin transformasi tersebut. BNY Mellon tidak hanya bereaksi terhadap perubahan, tetapi juga secara proaktif membentuk masa depan pembiayaan perdagangan, menawarkan solusi yang lebih cepat, lebih aman, dan lebih efisien bagi klien-kliennya di seluruh dunia, termasuk potensi dampak positifnya bagi pelaku bisnis di Indonesia.
Transformasi Pembiayaan Perdagangan: Efisiensi dan Akurasi
Salah satu pilar utama strategi BNY Mellon adalah migrasi layanan Tresuri dan Perdagangannya ke Model Operasi Platform yang baru. Inisiatif strategis ini bukan sekadar pembaruan sistem, melainkan sebuah restrukturisasi fundamental dalam cara BNY mengelola operasionalnya. Tujuan utamanya adalah untuk mengatasi hambatan tradisional yang sering kali memperlambat proses dalam pembiayaan perdagangan, seperti orientasi klien dan pemrosesan dokumen yang kompleks.
Revolusi Model Operasi Platform BNY
Model Operasi Platform BNY dirancang untuk meningkatkan efisiensi secara drastis melalui sentralisasi kepemilikan proses pada tim lintas fungsi atau "squad", standarisasi perangkat kerja, serta otomatisasi pada tahapan penting seperti penerimaan dokumen dan pemeriksaan kepatuhan. Pendekatan ini secara signifikan mengurangi titik-titik serah terima (handoffs) dan mempercepat alur kerja dari ujung ke ujung. Bagi klien, ini berarti pengalaman yang jauh lebih mulus dan responsif, sebuah keunggulan kompetitif yang krusial di pasar yang serba cepat saat ini.
Dampak Nyata pada Kecepatan dan Akurasi
Hasil dari implementasi model baru ini sangat mencengangkan. Proses orientasi klien, yang sebelumnya bisa memakan waktu berminggu-minggu, kini dapat diselesaikan dalam hitungan hari. Bayangkan dampaknya bagi perusahaan di Indonesia yang ingin berekspansi secara internasional; kemampuan untuk memulai transaksi perdagangan lebih cepat dapat berarti perbedaan antara peluang yang berhasil diraih dan yang terlewatkan. Selain itu, dokumen pembiayaan perdagangan kini diproses dengan kecepatan lebih tinggi, akurasi yang lebih baik, dan kemampuan audit penuh. Keunggulan ini sangat penting untuk mitigasi risiko dan memastikan kepatuhan. Kolaborasi erat antara tim rekayasa, produk, dan operasional, yang menjadi ciri khas model ini, juga memungkinkan resolusi masalah yang cepat dan akuntabilitas yang jelas.
Menjawab Tantangan Regulasi: KYC, AML, dan Otomatisasi
Kepatuhan terhadap regulasi Know Your Customer (KYC) dan Anti-Money Laundering (AML) seringkali disebut sebagai "kematian pembiayaan perdagangan" bagi pelaku usaha kecil dan menengah karena kompleksitas dan biaya yang terlibat. Namun, BNY Mellon menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi solusi, bukan hambatan.
Peran SIERA dalam Otomatisasi Kepatuhan
Untuk mengatasi tantangan ini, BNY Mellon mengimplementasikan agen disposisi sanksi bernama SIERA pada kuartal ketiga tahun 2025. SIERA, dengan pendekatan "human in the loop", membantu mengotomatiskan disposisi peringatan sanksi, secara drastis mengurangi pekerjaan manual, dan memungkinkan skalabilitas bahkan pada volume puncak. Sejak diluncurkan, titik sentuh manual dalam penanganan sanksi menurun sekitar 24%, dan waktu penyelesaian bagi klien meningkat sekitar 35%. Ini tidak hanya mempercepat proses tetapi juga memperkuat kepatuhan sanksi dengan akurasi tinggi dan rasionalisasi yang kuat dalam setiap disposisi. Bagi perusahaan di Indonesia yang berinteraksi dengan rantai pasok global, efisiensi ini berarti transaksi yang lebih cepat dan risiko kepatuhan yang lebih rendah.
Integrasi Eliza/Gemini dan Penanganan Koridor Perdagangan
Integrasi Eliza/Gemini BNY lebih lanjut menyederhanakan penerimaan data dan menstandardisasi alur kerja. Meskipun verifikasi eksternal dan tinjauan hukum lintas batas masih memerlukan waktu, teknologi ini mampu secara moderat mengurangi waktu vetting di koridor perdagangan yang terdefinisi dengan baik. Keuntungan terbesar saat ini adalah konsistensi, transparansi, dan auditabilitas di seluruh proses. Area fokus lainnya termasuk peningkatan pemantauan transaksi yang sedang berjalan, termasuk perubahan struktur kepemilikan pihak lawan. Ini krusial untuk menjaga integritas transaksi dan mencegah penyalahgunaan, sebuah aspek yang juga menjadi perhatian utama regulator di Indonesia.
Dinamika Pergeseran Koridor Perdagangan Global
Fenomena near-shoring dan friend-shoring telah memicu pergeseran signifikan dalam koridor perdagangan. Ini termasuk penyeimbangan kembali yang didorong tarif dari Asia-Pasifik ke Amerika Utara, serta pertumbuhan rute perdagangan Selatan-Selatan. Pergeseran ini menciptakan peluang dan tantangan baru bagi institusi keuangan.
Adaptasi Jaringan Bank Koresponden BNY
Sebagai mitra pembiayaan perdagangan terkemuka untuk lembaga keuangan di seluruh dunia, BNY Mellon menyadari pentingnya adaptasi. Mereka secara aktif menyesuaikan cakupan dan kemampuan jaringan bank korespondennya untuk memenuhi kebutuhan klien di mana pun mereka berbisnis. Dengan memanfaatkan jejak global strategisnya, BNY menyediakan solusi pembiayaan perdagangan yang tangkas dan dapat diandalkan, mendukung kebutuhan klien dan rantai pasokan mereka, terlepas dari bagaimana pasar dan koridor berkembang. Ini berarti bahwa, misalnya, eksportir Indonesia yang mencari rute baru ke pasar di Afrika atau Amerika Latin dapat mengandalkan BNY Mellon untuk memfasilitasi kebutuhan pembiayaan perdagangan mereka.
Mengelola Likuiditas di Era Penyelesaian Cepat (T+1)
Adopsi penyelesaian T+1 oleh Amerika Serikat telah meningkatkan tekanan pada manajemen likuiditas, khususnya bagi klien perdagangan internasional yang menghadapi jeda pengiriman multi-hari. Fenomena ini juga relevan bagi perusahaan di Indonesia yang berdagang dengan AS.
Joon Kim menjelaskan bahwa meskipun penyelesaian yang lebih cepat—terutama untuk pembiayaan hutang dan piutang—mendukung efisiensi modal kerja, kecepatan penyelesaian hanyalah satu bagian dari siklus modal kerja yang lebih luas. Faktor-faktor lain seperti diskon dinamis, posisi intraday, dan optimasi imbal hasil deposit sama pentingnya bagi bendahara korporat dalam upaya mereka untuk meningkatkan likuiditas dan pengembalian keseluruhan. BNY Mellon membantu klien menavigasi kompleksitas ini dengan menawarkan solusi komprehensif yang melampaui sekadar kecepatan penyelesaian.
Masa Depan Pembayaran Perdagangan: Aset Digital dan Real-time Settlement
Mengingat kepemimpinan BNY Mellon dalam aset digital dan stablecoin, muncul pertanyaan tentang potensi penyelesaian instrumen pembiayaan perdagangan secara real-time menggunakan uang tunai terdigitalisasi, bukan siklus T+2 tradisional.
Potensi Uang Tunai Terdigitalisasi (Tokenized Cash)
Kim melihat bahwa sangat masuk akal jika instrumen pembiayaan perdagangan dapat diselesaikan dalam waktu hampir real-time menggunakan uang tunai terdigitalisasi. Potensi manfaatnya mencakup arus kas yang lebih cepat, pengurangan risiko penyelesaian, dan peningkatan transparansi di seluruh proses. Ini akan menjadi terobosan signifikan bagi perdagangan internasional, mempercepat perputaran modal dan mengurangi biaya operasional.
Tantangan dan Prospek Adopsi di Indonesia
Namun, adopsi secara luas akan sangat bergantung pada kematangan uang digital yang teregulasi secara on-chain, kerangka hukum yang jelas, dan interoperabilitas antar yurisdiksi. Di Indonesia, misalnya, Bank Indonesia sedang mengembangkan Rupiah Digital, yang berpotensi menjadi uang tunai terdigitalisasi yang teregulasi. Ini bisa menjadi fondasi bagi ekosistem pembiayaan perdagangan digital di masa depan. Dalam jangka pendek, kemajuan kemungkinan akan terjadi dalam kasus penggunaan yang terbatas dan terdefinisi dengan baik, serta jaringan permissioned di mana peserta dan aturan telah ditetapkan dengan jelas. Tantangan utama tetap ada seputar kepatuhan lintas batas, kesiapan operasional, dan standardisasi dokumen perdagangan digital. Meskipun demikian, arah perkembangannya menjanjikan, dan lini masa akan ditentukan oleh keselarasan regulasi dan adopsi industri, baik secara global maupun di pasar-pasar kunci seperti Indonesia.
Kesimpulan
Evolusi pembiayaan perdagangan yang dipimpin oleh BNY Mellon menunjukkan komitmen terhadap inovasi dan efisiensi. Dengan Model Operasi Platform, otomatisasi kepatuhan, adaptasi terhadap perubahan koridor perdagangan, dan eksplorasi aset digital, BNY Mellon tidak hanya mengatasi tantangan saat ini tetapi juga membentuk masa depan perdagangan global. Bagi pelaku bisnis di Indonesia, inovasi ini berarti akses ke solusi pembiayaan perdagangan yang lebih cepat, lebih aman, dan lebih terintegrasi, yang sangat penting untuk bersaing di panggung global yang semakin kompleks dan dinamis.