IPO SpaceX: Potensi Triliunan Dolar dan Revolusi Pasar Saham Global
- SpaceX dan beberapa perusahaan teknologi raksasa lainnya berpotensi menggelar IPO dengan valuasi triliunan dolar, memecahkan rekor global.
- Valuasi swasta SpaceX mencapai $1,25 triliun, menempatkannya sejajar dengan raksasa S&P 500 seperti Tesla dan Berkshire Hathaway.
- IPO ini diperkirakan dapat menghasilkan $125 miliar, jauh melampaui rekor IPO Saudi Aramco dan Alibaba.
- Pasar menanti dengan antusiasme tinggi, namun juga diiringi kekhawatiran tentang valuasi yang terlalu optimis dan potensi gelembung AI.
- Ekosistem modal swasta terus berkembang, memungkinkan investor mengakses perusahaan-perusahaan ini sebelum go public.
- Fenomena ini membuka peluang dan tantangan baru bagi investor di seluruh dunia, termasuk Indonesia, yang harus mempertimbangkan risiko dan imbal hasil.
Terobosan IPO Triliun Dolar: Fenomena SpaceX dan Gigantik Lainnya
Pasar Penawaran Umum Perdana (IPO) di Amerika Serikat belum pernah menyaksikan debut dengan valuasi triliunan dolar. Namun, skenario ini diperkirakan akan segera berubah seiring dengan gelombang perusahaan swasta bervaluasi raksasa yang mempertimbangkan untuk memasuki pasar publik. Investor global, termasuk yang berada di Indonesia, tampak haus akan saham-saham segar dengan potensi pertumbuhan eksplosif.
Di balik desas-desus mengenai potensi IPO SpaceX yang diinisiasi oleh Elon Musk, setelah merger dengan xAI, terdapat sejumlah kesepakatan mega-ukuran lainnya yang saat ini memiliki valuasi ratusan miliar dolar. Kondisi ini didukung oleh ekosistem pendanaan yang berkembang pesat bagi perusahaan-perusahaan besar di pasar swasta, menciptakan lanskap investasi yang menarik sekaligus menantang.
Valuasi Fantastis dan Potensi Pecah Rekor
Valuasi pasar swasta SpaceX diperkirakan mencapai $1,25 triliun, menjadikannya perusahaan terbesar kesembilan dalam indeks S&P 500. Angka ini sedikit di bawah valuasi Tesla sebesar $1,5 triliun, tetapi melampaui Berkshire Hathaway milik Warren Buffett ($1,1 triliun) dan Walmart ($1,05 triliun). Jika Musk berhasil membawa SpaceX ke publik tahun ini, kemungkinan akan menjual sekitar 10% ekuitasnya dalam IPO, mengumpulkan $125 miliar. Jumlah ini jauh melampaui perolehan IPO Saudi Aramco sebesar $29,4 miliar, yang merupakan IPO global terbesar yang pernah ada, dan IPO Alibaba sebesar $21,8 miliar, yang masih menjadi yang terbesar di AS sejak debutnya pada tahun 2014.
Zachary Evens, analis strategi pasif di Morningstar, mengemukakan bahwa tidak ada preseden untuk IPO sebesar ini. Ia tertarik untuk melihat apakah penyedia indeks akan membuat pengecualian untuk IPO raksasa, mengingat dampaknya yang instan dalam membentuk kembali pasar. Nasdaq, misalnya, sedang mempertimbangkan aturan “entri cepat” khusus yang akan memungkinkan perusahaan untuk bergabung dengan indeks unggulannya setelah 15 hari perdagangan pertama, sebuah langkah yang menunjukkan betapa revolusionernya potensi IPO ini.
Selain SpaceX, ada pula OpenAI yang saat ini bervaluasi sekitar $500 miliar, kira-kira dua kali lipat nilai perusahaan Alibaba sebesar $236 miliar saat IPO tahun 2014. Anthropic, pengembang layanan AI Claude, juga memiliki valuasi sekitar $374 miliar, serta spesialis perangkat lunak bisnis Databricks dengan $134 miliar. Valuasi-valuasi ini jauh melampaui Facebook pada IPO tahun 2012 ($81 miliar) atau Uber Technologies pada IPO tahun 2019 ($75,5 miliar), menandai pergeseran signifikan dalam skala perusahaan teknologi yang memasuki pasar publik.
Antusiasme Pasar vs. Skeptisisme Investor
Meskipun prospek IPO raksasa ini memicu antusiasme, ada kemungkinan valuasi tinggi perusahaan swasta ini bisa terpukul di tengah ketidakpastian Wall Street mengenai apakah pengeluaran besar-besaran untuk AI akan membuahkan hasil. Jendela untuk membawa perusahaan ke publik sempat tertutup rapat pada April tahun lalu setelah peluncuran rezim tarif Liberation Day AS, dan bisa terjadi lagi jika aksi jual teknologi baru-baru ini yang didorong oleh kegelisahan AI terus berlanjut. Ini menjadi pertimbangan krusial bagi investor di Indonesia yang ingin turut serta dalam gelombang IPO ini.
Banyak dari perusahaan ini tumbuh subur dalam ekosistem yang berkembang pasca Krisis Keuangan, namun mereka belum pernah mengalami resesi parah atau gelembung yang pecah, seperti krisis dot-com tahun 2000-2001. Kendati demikian, setelah pasar IPO yang lesu dalam beberapa tahun terakhir dan menyusutnya jumlah perusahaan yang terdaftar karena take-private dan kesepakatan merger lainnya, para pialang tetap haus akan saham publik baru. Mark Lehmann, wakil ketua bank komersial di Citizens Financial Group, menyatakan bahwa akan ada banyak pihak yang menginginkan eksposur ke perusahaan-perusahaan ini, termasuk institusi, individu kaya, dan investor ritel.
Kaush Amin, direktur pelaksana dan kepala investasi pasar swasta di US Bank, mencatat bahwa valuasi beberapa perusahaan AI mengasumsikan penggunaan produk mereka secara luas dalam lima hingga sepuluh tahun. Proyeksi ini jauh lebih cepat dibandingkan 70 tahun yang dibutuhkan Revolusi Industri untuk menyebar di Inggris atau 25 tahun bagi internet untuk merasuk ke seluruh ekonomi. Amin juga menyoroti bahwa beberapa sektor teknologi sangat di atas valuasi karena angka-angka mungkin tidak mencerminkan dukungan infrastruktur yang dibutuhkan AI dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun serta mengadopsinya di seluruh ekonomi. Kebutuhan akan pendanaan belanja modal, pusat data, pembelian chip, dan pembelian daya semuanya membutuhkan waktu dan uang. Selain Nvidia atau pemain strategis besar lainnya—mungkin Softbank, misalnya—tidak banyak pemain di luar sana yang dapat memberikan cek sebesar itu.
Ekosistem Modal Swasta yang Berkembang Pesat
Sementara perdebatan berlanjut mengenai bagaimana perusahaan-perusahaan unicorn ini akan bernasib setelah go public, ekosistem modal swasta terus tumbuh dan beradaptasi. Morgan Stanley, misalnya, mengakuisisi EquityZen, pialang pasar swasta, dan menggabungkan bisnis tersebut ke dalam portofolio investasinya untuk klien-kliennya yang kaya. Kesepakatan ini juga akan memungkinkan bank untuk membantu menjual saham swasta yang diperoleh sebagai bagian dari paket kompensasi klien. Charles Schwab memiliki rencana serupa dengan akuisisi Forge Global-nya. Perkembangan ini menunjukkan upaya untuk menyediakan akses yang lebih luas ke investasi pasar swasta, termasuk bagi investor institusional dan individu berpenghasilan tinggi di Indonesia.
David Shapiro, salah satu pendiri dan CEO OpenVC, yang membantu menciptakan NYSE OPEN Venture Capital Unicorn Index, mengatakan bahwa investor sangat ingin mengamankan saham di perusahaan sebelum mereka go public. Namun, ia mengingatkan bahwa biaya mungkin jauh lebih tinggi dalam beberapa kasus dan bahwa setelah IPO debut, kinerja saham bisa saja menurun. “Kadang-kadang, pada saat perusahaan-perusahaan ini go public, semua ‘sari’-nya sudah diperas untuk investor,” kata Shapiro. Ini adalah alasan untuk berinvestasi di perusahaan sebelum mereka go public, demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Perusahaan-perusahaan dalam indeks saja mencapai pasar yang dapat dijangkau sekitar $2 triliun atau lebih. Dengan adanya antusiasme ini, “Orang-orang haus akan aset-aset ini,” tambahnya, mencerminkan dorongan kuat di pasar untuk mencari peluang pertumbuhan baru.
Peluang dan Tantangan bagi Investor Indonesia
Fenomena IPO triliunan dolar ini tidak hanya menjadi pembicaraan di Wall Street, tetapi juga berpotensi memengaruhi lanskap investasi global, termasuk di Indonesia. Bagi investor Indonesia, akses ke IPO raksasa seperti SpaceX dapat membuka gerbang ke pertumbuhan kapitalisasi pasar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, tantangan juga menyertainya, mulai dari kompleksitas regulasi investasi lintas negara hingga volatilitas pasar global. Investor perlu melakukan due diligence yang cermat dan memahami risiko yang melekat pada investasi di perusahaan berteknologi tinggi dengan valuasi yang sangat tinggi.
Keterlibatan dalam pasar global memerlukan pemahaman mendalam tentang dinamika ekonomi makro dan tren industri. Diversifikasi portofolio dan konsultasi dengan penasihat keuangan yang berpengalaman menjadi kunci untuk menavigasi peluang dan risiko ini. Perkembangan infrastruktur digital dan platform investasi global di Indonesia dapat mempermudah akses bagi investor domestik untuk berpartisipasi dalam IPO berskala internasional ini, menjadikan koneksi pasar modal Indonesia dengan pasar global semakin erat.
Masa Depan IPO Raksasa Teknologi
Secara keseluruhan, potensi IPO triliunan dolar dari SpaceX dan perusahaan-perusahaan teknologi lainnya menandai era baru dalam sejarah pasar modal. Ini bukan hanya tentang angka-angka fantastis, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan-perusahaan ini akan mengubah industri mereka dan ekonomi global. Baik antusiasme maupun skeptisisme memiliki dasar yang kuat, dan bagaimana pasar merespons akan membentuk preseden untuk IPO di masa depan. Bagi Indonesia, fenomena ini adalah peluang untuk belajar, beradaptasi, dan berpartisipasi dalam evolusi pasar keuangan global yang tak terhindarkan, sembari tetap waspada terhadap gejolak yang mungkin terjadi.