Ketika Suara Kebebasan Kripto Membisu: Sebuah Refleksi atas Standar Ganda
Dunia kripto, yang sering kali digambarkan sebagai bastion inovasi dan kebebasan finansial, pernah dikenal vokal dalam menyuarakan prinsip-prinsipnya. Ingatlah tahun 2021, ketika regulator seperti Gary Gensler meluncurkan serangkaian tindakan yang dianggap mengancam industri ini. Para pemimpin dan komunitas kripto bersatu padu, dengan lantang mendeklarasikan diri sebagai pembela kebebasan ekonomi dan hak untuk berbisnis tanpa intervensi pemerintah yang sewenang-wenang. Mereka mengorganisir kampanye politik, menamai upaya regulasi tersebut sebagai "Operation Chokepoint 2.0," dan bahkan meraih kemenangan politik yang signifikan, memposisikan lobi kripto sebagai kekuatan baru yang tangguh di Washington, D.C. Narasi yang mereka bangun kuat dan konsisten: melawan penyalahgunaan kekuasaan pemerintah, demi kebebasan berinovasi dan berekspresi.
Namun, baru-baru ini, sebuah kejadian serupa namun menargetkan arena yang berbeda, justru memperlihatkan sisi lain yang membingungkan. Ketika seorang regulator lain, dari lembaga yang berbeda (FCC), melancarkan gelombang intimidasi yang bahkan bisa membuat Gensler tersipu—menekan jaringan TV untuk mencopot komedian Jimmy Kimmel karena lelucon yang dianggap tidak pantas—dunia kripto justru hening. Tidak ada suara protes. Tidak ada seruan tentang "kebebasan berekspresi" yang dulunya begitu nyaring. Regulator tersebut, alih-alih berpegang pada hukum atau proses hukum, melontarkan ancaman bernada mafia, "kita bisa melakukan ini dengan cara mudah atau cara sulit." Ironisnya, ancaman ini diperparah oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang mengisyaratkan bahwa stasiun TV yang meliputnya secara negatif harus dicabut lisensinya. Ini adalah bentuk penyalahgunaan kekuasaan pemerintah yang sewenang-wenang, persis seperti yang dulu dibenci oleh para pemimpin kripto ketika Gensler melakukannya kepada mereka.
Kontradiksi dalam Prinsip: Dimana Suara Kebebasan Kripto?
Ketidakhadiran respons dari industri kripto terhadap ancaman kebebasan berbicara di media tradisional ini menimbulkan pertanyaan serius. Dimana para pembela kebebasan berbicara yang sebelumnya dengan tegas mengutuk "Operation Chokepoint 2.0"? Kontradiksi ini semakin mencolok mengingat bagaimana banyak eksekutif kripto membela para pengembang Tornado Cash, berargumen bahwa kode yang mereka tulis adalah bentuk "pidato." Namun, kini mereka seolah tak punya kata ketika pemerintah berusaha menyensor pidato sesungguhnya dari para komedian atau jurnalis. Senator Cynthia Lummis (R-WY), seorang pendukung Bitcoin yang mengidentifikasi diri sebagai libertarian dan advokat pemerintahan terbatas, bahkan secara mengejutkan menyarankan agar cakupan Amandemen Pertama perlu dipertimbangkan kembali. Sikap ini, dari seseorang yang diharapkan berdiri teguh untuk kebebasan, sangatlah membingungkan.
Beberapa suara kritis, seperti Austin Campbell, seorang advokat stablecoin yang berpengaruh, menjadi salah satu dari sedikit yang berani menyoroti inkonsistensi ini. Melalui cuitannya, Campbell secara terbuka mempertanyakan perubahan sikap para pembela kebebasan berbicara yang sebelumnya begitu bersemangat. Mengapa prinsip-prinsip luhur yang mereka agungkan hanya berlaku saat kepentingan mereka sendiri terancam? Apakah kebebasan berbicara hanya penting jika terkait dengan kode atau aset digital, tetapi tidak relevan ketika menyangkut media massa atau hiburan?
Menganalisis Motif: Antara Kepentingan Diri dan Prinsip Universal
Ada argumen yang mengatakan bahwa membela Jimmy Kimmel bukanlah tugas para eksekutif kripto. Kita tidak melihat CEO perusahaan minyak atau farmasi buru-buru ikut campur dalam kontroversi FCC. Namun, argumen ini luput dari inti permasalahan. Industri kripto, tidak seperti sektor korporat tradisional, dibangun di atas fondasi filosofis privasi, desentralisasi, dan kebebasan. Nilai-nilai ini seharusnya melampaui kepentingan sempit dan sektoral. Para pemimpin industri ini, yang sering kali memproklamirkan diri sebagai inovator yang menantang status quo, diharapkan memiliki kemauan untuk memperjuangkan prinsip-prinsip tersebut secara lebih universal.
Ketidakpedulian ini dapat diinterpretasikan sebagai sebuah bentuk oportunisme politik atau, yang lebih buruk, indikasi bahwa prinsip-prinsip tersebut hanyalah alat retoris yang digunakan untuk mencapai tujuan finansial atau politik. Jika mereka hanya peduli pada kebebasan berbicara ketika itu menguntungkan industri mereka, maka mereka sebenarnya tidak memperjuangkan kebebasan berbicara, melainkan hanya kepentingan pribadi. Ini adalah perbedaan krusial yang perlu dipahami. Jika industri ini ingin dihormati sebagai pengusung perubahan fundamental dan kebebasan, ia harus menunjukkan konsistensi dalam komitmennya terhadap prinsip-prinsip tersebut, terlepas dari siapa yang menjadi korban atau pelakunya.
Bahaya Preseden: Jika Hari Ini untuk Mereka, Bagaimana dengan Kita Besok?
Mungkin para pendiri Coinbase atau Kraken merasa nyaman dengan ide Trump "mengutus" FCC untuk menekan penyiar yang mengkritiknya. Namun, apakah mereka benar-benar ingin mendukung preseden semacam ini? Apakah mereka akan baik-baik saja jika presiden berikutnya dari partai Demokrat menolak lisensi perusahaan kripto kecuali mereka menyatakan dukungan untuk "Woke Inc."? Ini bukan sekadar skenario hipotetis; sejarah telah menunjukkan bagaimana kekuasaan yang disalahgunakan di satu sektor dapat dengan cepat menyebar dan menargetkan sektor lain. Dengan membiarkan atau bahkan mendukung penyalahgunaan kekuasaan pemerintah terhadap media, industri kripto tanpa sadar sedang meletakkan dasar bagi potensi penargetan mereka sendiri di masa depan.
Preseden ini sangat berbahaya. Jika kebebasan berbicara dapat dicabut berdasarkan selera politik seorang pejabat, maka tidak ada industri yang aman. Prinsip-prinsip kebebasan tidak bisa menjadi barang tawar-menawar yang bersifat partisan. Mereka adalah fondasi masyarakat yang sehat, dan jika salah satu fondasi itu runtuh, yang lain berisiko ikut roboh. Para eksekutif kripto seharusnya memahami bahwa membela kebebasan berbicara untuk orang lain adalah bentuk membela diri mereka sendiri dalam jangka panjang. Karena jika suatu hari pemerintah dapat dengan mudah mengendalikan apa yang dikatakan di televisi, apa yang akan menghentikannya dari mengontrol apa yang dikodekan atau ditransaksikan di blockchain?
Mengingat Kembali Semangat Satoshi Nakamoto
Para pemimpin kripto selayaknya kembali mengingat nilai-nilai yang diemban oleh pemimpin pertama industri ini, yaitu Satoshi Nakamoto. Ketidakpercayaannya terhadap pemerintah tidak tergantung pada partai politik mana yang berkuasa. Sebaliknya, Satoshi menaruh kepercayaannya pada Bitcoin, yang ia gambarkan sebagai alat untuk "memperoleh wilayah kebebasan yang baru." Visi Satoshi adalah tentang menciptakan sistem yang tahan terhadap penyalahgunaan kekuasaan, sebuah wilayah di mana individu dapat berinteraksi secara bebas dan tanpa sensor. Ini adalah idealisme murni yang melampaui kepentingan bisnis atau politik sesaat.
Semangat ini mengingatkan kita bahwa industri kripto, pada dasarnya, lahir dari keinginan untuk desentralisasi dan otonomi individu. Jika para pemimpinnya melupakan akar filosofis ini dan memilih untuk diam atau bahkan mendukung tindakan yang mengancam kebebasan fundamental, mereka berisiko kehilangan legitimasi moral mereka. Mereka berisiko menjadi bagian dari sistem yang mereka kritik, dan ironisnya, membangun struktur otoriter yang ingin mereka hindari. Saatnya bagi para eksekutif kripto untuk merenungkan kembali prinsip-prinsip yang pernah mereka perjuangkan dengan begitu gigih, dan menyadari bahwa kebebasan, dalam segala bentuknya, adalah perjuangan universal yang membutuhkan konsistensi dan keberanian.