Inisiatif J-PAL: Riset AI untuk Atasi Kemiskinan, Relevan bagi Indonesia
Dunia sedang menyaksikan era baru dengan munculnya kecerdasan buatan (AI), sebuah teknologi yang membawa optimisme sekaligus skeptisisme tentang dampaknya terhadap masyarakat. Untuk memanfaatkan potensi penuh AI ini, Abdul Latif Jameel Poverty Action Lab (J-PAL) di MIT, sebuah lembaga riset yang diakui dunia, telah meluncurkan inisiatif penting bernama Project AI Evidence (PAIE). Inisiatif ini berfokus pada pengujian dan penskalaan inovasi AI untuk memerangi kemiskinan di seluruh dunia, termasuk potensi dampaknya yang relevan bagi kondisi di Indonesia.
PAIE bukan sekadar proyek riset biasa. Ini adalah upaya strategis untuk secara sistematis mengidentifikasi solusi AI mana yang benar-benar efektif, inklusif, dan bertanggung jawab, serta untuk siapa. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa hanya inovasi yang terbukti berdampak positif yang akan diskalakan, sementara solusi yang berpotensi merugikan akan dikurangi atau dihentikan. Dengan demikian, PAIE berusaha menjembatani kesenjangan antara potensi besar AI dan kebutuhan mendesak untuk mengatasi tantangan sosial yang mengakar seperti kemiskinan.
Key Points
- J-PAL MIT meluncurkan "Project AI Evidence (PAIE)" untuk meneliti dan menguji inovasi AI dalam memerangi kemiskinan global.
- PAIE bertujuan mengidentifikasi solusi AI yang efektif, inklusif, dan bertanggung jawab, serta memastikan skalabilitasnya, sekaligus menekan solusi yang berpotensi merugikan.
- Inisiatif ini memfasilitasi kolaborasi antara pemerintah, perusahaan teknologi, dan organisasi nirlaba dengan para ekonom kelas dunia di jaringan J-PAL.
- Didukung oleh Google.org, Community Jameel, IDRC, UK International Development, Amazon Web Services, serta Eric dan Wendy Schmidt melalui Schmidt Sciences.
- Studi awal PAIE mencakup eksplorasi dampak AI di sektor pendidikan, pengurangan bias gender, dan peningkatan kesempatan kerja, dengan potensi besar bagi negara berkembang seperti Indonesia.
- J-PAL aktif mencari kolaborator baru untuk memperluas riset dan panduan kebijakan terkait implementasi AI yang bertanggung jawab untuk kesejahteraan sosial.
Membangun Bukti Melalui Kolaborasi Global
Untuk menghasilkan bukti yang kuat tentang apa yang berhasil, PAIE menggalang kekuatan melalui kolaborasi lintas sektor. Inisiatif ini menghubungkan pemerintah, perusahaan teknologi terkemuka, dan organisasi nirlaba dengan para ekonom kelas dunia dari MIT dan jaringan global J-PAL. Bersama-sama, mereka mengevaluasi dan memperbaiki solusi AI untuk tantangan sosial yang kompleks. Pendekatan ini sangat penting karena AI, seperti teknologi lainnya, bukanlah solusi ajaib. Keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana ia dirancang, diimplementasikan, dan dievaluasi dalam konteks dunia nyata.
Inisiatif baru ini secara khusus memprioritaskan pertanyaan-pertanyaan yang sudah menjadi perhatian para pembuat kebijakan. Misalnya, apakah alat bantu mengajar berbasis AI benar-benar membantu semua anak belajar secara efektif? Bagaimana sistem peringatan dini banjir yang didukung AI dapat membantu masyarakat yang terkena dampak bencana alam? Dapatkah algoritma pembelajaran mesin (machine learning) membantu mengurangi deforestasi di Amazon, atau bahkan hutan-hutan di Indonesia? Bisakah chatbot berbasis AI meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama di daerah terpencil?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menunjukkan fokus PAIE pada masalah-masalah praktis yang memiliki dampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Dalam beberapa tahun ke depan, PAIE akan menyelenggarakan serangkaian kompetisi pendanaan untuk mengundang proposal evaluasi alat AI yang menjawab pertanyaan-pertanyaan serupa, dan banyak lagi. Ini adalah pendekatan yang menjanjikan untuk memastikan bahwa investasi dalam AI diarahkan pada area yang paling membutuhkan dan memiliki potensi dampak terbesar.
Dukungan Kuat dari Mitra Global
Keberhasilan PAIE tidak lepas dari dukungan finansial yang kuat dari berbagai pihak. Google.org, lengan filantropi Google, menjadi salah satu pendukung utama. Selain itu, ada dukungan filantropi dari Community Jameel, hibah dari International Development Research Centre (IDRC) Kanada dan UK International Development, serta perjanjian kolaborasi dengan Amazon Web Services. Lebih lanjut, melalui hibah dari Eric dan Wendy Schmidt, yang diberikan atas rekomendasi Schmidt Sciences, inisiatif ini juga akan meneliti dampak AI generatif di tempat kerja, khususnya di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang tentu saja mencakup Indonesia.
Alex Diaz, kepala AI untuk kebaikan sosial di Google.org, menyatakan kegembiraannya berkolaborasi dengan MIT dan J-PAL. Ia menekankan perlunya penelitian mendesak untuk memahami apa yang berhasil, apa yang tidak, dan mengapa, agar potensi AI benar-benar dapat terealisasi. Maggie Gorman-Velez, wakil presiden strategi di IDRC, juga menambahkan bahwa AI memiliki potensi luar biasa hanya jika alat, pengetahuan, dan kekuatan untuk membentuknya dapat diakses oleh semua, termasuk penelitian yang relevan secara kontekstual. Dukungan ini menggarisbawahi komitmen global terhadap penskalaan inovasi AI yang aman, inklusif, dan relevan secara lokal.
Studi Awal PAIE: Mengatasi Pertanyaan Kebijakan Mendesak
J-PAL, dengan sejarah panjangnya dalam mengevaluasi kebijakan sosial sejak 2003, berada dalam posisi unik untuk memahami efek AI terhadap masyarakat. Melalui PAIE, J-PAL menyatukan para ahli terkemuka dalam teknologi AI, riset, dan kebijakan sosial, sejalan dengan fokus presiden MIT, Sally Kornbluth, pada AI generatif sebagai prioritas strategis. PAIE dipimpin oleh Professor Joshua Blumenstock, Iqbal Dhaliwal (Direktur Eksekutif Global J-PAL), dan Professor David Yanagizawa-Drott. Putaran pertama kompetisi pendanaan PAIE telah memilih delapan studi baru yang mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan mendesak di sektor-sektor kunci seperti pendidikan, kesehatan, iklim, dan kesempatan ekonomi. Berikut adalah beberapa contohnya:
AI dalam Pendidikan: Membantu Siswa dan Guru
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembelajaran yang dipersonalisasi sangat penting bagi siswa, namun sulit diterapkan dengan sumber daya yang terbatas. Di Kenya, sebuah perusahaan sosial pendidikan bernama EIDU telah mengembangkan alat AI yang membantu guru mengidentifikasi kesenjangan belajar dan menyesuaikan rencana pelajaran harian mereka. Di India, organisasi nirlaba Pratham sedang mengembangkan alat AI untuk meningkatkan dampak dan skala pendekatan Teaching at the Right Level yang berbasis bukti. Para peneliti J-PAL, Daron Acemoglu, Iqbal Dhaliwal, dan Francisco Gallego, akan bekerja sama dengan kedua organisasi ini untuk mempelajari efek dan potensi penggunaan AI terhadap produktivitas guru dan hasil belajar siswa.
Bagi Indonesia, di mana tantangan pemerataan pendidikan dan kualitas guru masih menjadi isu sentral, inovasi semacam ini menawarkan harapan besar. Bayangkan jika guru-guru di pelosok Indonesia dapat menggunakan AI untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar spesifik setiap siswa dan menyediakan materi yang relevan, tentunya ini akan sangat membantu meningkatkan kualitas pendidikan secara signifikan.
Mengurangi Bias Gender di Sekolah dengan AI
Di Italia, para peneliti berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan untuk mengevaluasi apakah alat AI dapat membantu mengurangi kesenjangan gender dalam kinerja siswa dengan mengatasi bias tidak sadar yang mungkin dimiliki guru. Afiliasi J-PAL, Michela Carlana dan Will Dobbie, bersama Francesca Miserocchi dan Eleonora Patacchini, akan mempelajari dampak dua alat AI: satu yang membantu guru memprediksi kinerja dan yang kedua memberikan umpan balik real-time tentang keragaman keputusan mereka. Ini adalah langkah inovatif untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih adil.
Isu bias gender, meskipun mungkin tidak selalu terang-terangan, juga dapat memengaruhi sistem pendidikan di Indonesia. Penggunaan AI untuk mengidentifikasi dan mengurangi bias semacam ini dapat membantu memastikan bahwa semua siswa, tanpa memandang gender, memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil dan mengembangkan potensi penuh mereka.
AI untuk Membuka Peluang Kerja Lebih Luas
Di Kenya, para peneliti sedang mengevaluasi apakah alat AI dapat mengidentifikasi keterampilan yang terabaikan dan membuka peluang kerja, khususnya bagi kaum muda, wanita, dan mereka yang tidak memiliki pendidikan formal. Berkolaborasi dengan LSM Swahilipot dan Tabiya, Jasmin Baier dan peneliti J-PAL Christian Meyer akan mengevaluasi bagaimana alat ini mengubah strategi pencarian kerja dan tingkat pekerjaan. Studi ini akan menjelaskan AI sebagai pelengkap, bukan pengganti, keahlian manusia dalam panduan karier.
Indonesia, dengan populasi muda yang besar dan kebutuhan untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja yang berkualitas, dapat mengambil banyak pelajaran dari penelitian ini. AI dapat membantu memadankan pencari kerja dengan posisi yang tepat, bahkan jika mereka tidak memiliki latar belakang formal yang konvensional. Ini berpotensi sangat membantu dalam mengurangi pengangguran dan meningkatkan inklusi ekonomi.
Masa Depan AI untuk Kesejahteraan Sosial
Seiring dengan berkembangnya penggunaan AI di sektor sosial, evaluasi ini merupakan langkah pertama dalam menemukan solusi yang efektif dan bertanggung jawab yang akan paling jauh dalam mengurangi kemiskinan dan ketidaksetaraan. Iqbal Dhaliwal dari J-PAL mencatat bahwa J-PAL memiliki sejarah panjang dalam mengevaluasi teknologi inovatif untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Ia menekankan bahwa meskipun AI memiliki potensi luar biasa, kita perlu memaksimalkan manfaatnya dan meminimalkan potensi kerugiannya. Dukungan dari para donor, sponsor, dan kolaborator sangat penting dalam meluncurkan PAIE, yang akan membantu memperluas bukti dampak inovasi AI.
J-PAL juga secara aktif mencari kolaborator baru yang memiliki visi serupa dalam menemukan dan menskalakan solusi AI di dunia nyata. Mereka bertujuan untuk mendukung lebih banyak pemerintah dan organisasi sektor sosial yang ingin mengadopsi AI secara bertanggung jawab, dan akan terus memperluas pendanaan untuk evaluasi baru serta memberikan panduan kebijakan berdasarkan penelitian terbaru. Bagi pihak-pihak di Indonesia yang tertarik untuk menerapkan AI dengan dampak sosial positif, ini adalah kesempatan emas untuk belajar dan berkolaborasi. Untuk informasi lebih lanjut tentang Project AI Evidence, Anda dapat berlangganan buletin J-PAL atau menghubungi paie@povertyactionlab.org.