Arthur Hayes: Pasar Bull Bitcoin Belum Usai, Kebijakan Moneter Jadi Kunci

Grafik harga Bitcoin yang menunjukkan penurunan signifikan setelah mencapai puncaknya, dengan indikator volatilitas pasar dan data dari CryptoQuant.

Dinamika pasar aset kripto, khususnya Bitcoin, selalu menarik perhatian investor dan pengamat ekonomi global. Setelah mengalami sedikit penurunan di bawah angka $104.000 pada hari Selasa, harga Bitcoin menunjukkan upaya pertahanan di atas $103.500 pada hari berikutnya. Meskipun fluktuasi ini wajar dalam pasar yang dikenal dengan volatilitasnya, banyak pihak mencari kejelasan mengenai arah pergerakan pasar selanjutnya. Di tengah ketidakpastian ini, Arthur Hayes, seorang tokoh terkemuka di dunia kripto dan Chief Investment Officer Maelstrom, dengan tegas menyatakan bahwa pasar bull Bitcoin masih jauh dari kata usai. Pandangannya ini menawarkan perspektif yang berbeda di tengah kekhawatiran sebagian investor, menyoroti bagaimana kebijakan moneter global dapat menjadi faktor penentu utama bagi pertumbuhan harga Bitcoin yang berkelanjutan.

Kebijakan Moneter The Fed dan Potensi "Stealth Quantitative Easing"

Dalam analisisnya yang dipublikasikan baru-baru ini, Hayes mengakui bahwa harga Bitcoin telah mengalami penurunan sebesar 27% dalam sebulan terakhir. Namun, ia meyakini bahwa Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, masih memiliki peran kunci dalam memicu reli pasar Bitcoin berikutnya. Menurut Hayes, babak baru bagi Bitcoin mungkin akan dimulai ketika The Fed menerapkan apa yang ia sebut sebagai "stealth quantitative easing" atau pelonggaran kuantitatif tersembunyi. Konsep ini merujuk pada kembalinya likuiditas ke pasar secara diam-diam, yang disamarkan sebagai kebijakan yang hati-hati dan terukur, bukan sebagai stimulus terang-terangan. Ini berarti, The Fed bisa saja secara perlahan menyuntikkan dana kembali ke sistem keuangan, yang pada akhirnya akan mengalir ke aset berisiko seperti Bitcoin, memicu kenaikan harga.

Dampak Pengetatan Likuiditas Global

Untuk saat ini, Hayes mengamati bahwa pasar sedang merasakan tekanan akibat pengetatan likuiditas yang terkait dengan penutupan pemerintahan AS yang sedang berlangsung. Situasi ini menciptakan ketidakpastian ekonomi yang menahan investor untuk mengambil risiko, termasuk dalam investasi kripto. Pengetatan likuiditas secara umum mengacu pada berkurangnya ketersediaan uang tunai atau aset yang mudah dicairkan di pasar, yang dapat memperlambat aktivitas ekonomi dan investasi. Meskipun Hayes optimistis, ia juga mengakui bahwa tidak ada yang bisa memastikan kapan pergeseran kebijakan The Fed ini akan terjadi. Ketua The Fed, Jerome Powell, sebelumnya telah menyatakan bahwa pengetatan kuantitatif (quantitative tightening) akan berakhir pada 1 Desember. Namun, jaminan untuk pemotongan suku bunga berikutnya di bulan depan masih belum ada, meninggalkan pasar dalam spekulasi dan kehati-hatian.

Mengapa Investor Jangka Panjang Bitcoin Melakukan Penjualan Massal?

Ketidakjelasan mengenai arah kebijakan moneter The Fed ini jelas memengaruhi selera risiko di seluruh pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Alat CME FedWatch, misalnya, menunjukkan peluang pemotongan suku bunga berikutnya sekitar 72%. Namun, ketiadaan kepastian yang mutlak membuat para analis dan investor tetap waspada. Kehati-hatian ini tercermin langsung pada pergerakan harga Bitcoin, yang telah turun sekitar 10% dalam seminggu terakhir. Tidak hanya itu, Exchange Traded Funds (ETF) Bitcoin spot juga mencatat arus keluar hampir $1 miliar selama periode yang sama, sebuah indikasi jelas dari sentimen pasar yang melemah. Kondisi ini menunjukkan bahwa, meskipun ada potensi pemotongan suku bunga, kekhawatiran yang ada masih lebih dominan di benak investor.

Data dari CryptoQuant memperkuat kekhawatiran ini, menunjukkan bahwa investor jangka panjang Bitcoin telah menjual lebih dari 827.000 BTC selama sebulan terakhir, dengan nilai sekitar $86 miliar. Jumlah ini setara dengan hampir 4% dari total pasokan Bitcoin dan menandai penurunan bulanan tertajam sejak Juli. Fenomena penjualan besar-besaran oleh investor jangka panjang ini merupakan sinyal penting. Biasanya, investor jenis ini cenderung menahan aset mereka untuk periode waktu yang lama, sehingga penjualan dalam skala besar dapat mengindikasikan kekhawatiran serius terhadap kondisi pasar atau profit taking yang signifikan. Hayes sendiri telah mendesak investor untuk melindungi modal mereka dan bersiap menghadapi volatilitas perdagangan hingga penutupan pemerintahan AS berakhir. Sebelumnya, ia bahkan memprediksi bahwa harga Bitcoin dapat mencapai setidaknya $200.000 sebelum akhir tahun, menunjukkan keyakinannya pada potensi jangka panjang aset digital ini meskipun ada guncangan jangka pendek.

Analisis Teknis dan Prediksi Harga Bitcoin ke Depan

Pergerakan harga Bitcoin saat ini berada di persimpangan jalan, memicu berbagai analisis teknis dari para ahli. Bitcoin sempat merosot menuju zona $101.000–$102.000 pada hari Senin, menguji level dukungan yang telah bertahan sejak awal Oktober. Analis Ali Martinez berpendapat bahwa area ini dapat berfungsi sebagai lantai jangka pendek. Ia mencatat bahwa harga telah menyentuh zona permintaan historis, yang sebelumnya membantu menstabilkan pasar. Berdasarkan analisisnya, Bitcoin bisa rebound setidaknya ke $106.500 atau bahkan $112.000 jika momentum pembelian terbentuk. Martinez juga memprediksi bahwa pasar mungkin akan bergerak menyamping untuk sementara waktu sebelum menunjukkan pemulihan yang jelas.

Sinyal Bahaya dari Analis Lain

Namun, tidak semua analis memiliki pandangan yang sama optimistisnya. Analis lain menawarkan pandangan yang lebih hati-hati, mencatat bahwa Bitcoin telah jatuh di bawah level terendah 10 Oktober. Penembusan struktur ini bisa memperdalam tekanan di pasar. Ia menekankan bahwa ini adalah level dukungan utama terakhir sebelum Bitcoin berpotensi meluncur ke area $98.000, sebuah harga yang terakhir tersentuh selama aksi jual yang terkait dengan ketegangan di Timur Tengah pada bulan Juni. Grafik teknis menunjukkan adanya penekanan berulang di dekat posisi terendah saat ini, mengisyaratkan memudarnya kekuatan pembeli dan tekanan jual yang stabil. Kedua analisis ini, baik yang optimis maupun yang hati-hati, menyoroti pentingnya level harga saat ini bagi Bitcoin. Pasar berada pada titik kritis; pembeli perlu mempertahankan rentang ini atau berisiko mengalami penurunan yang lebih dalam.

Kesimpulan: Bitcoin di Persimpangan Kritis

Secara keseluruhan, pasar Bitcoin saat ini berada dalam periode krusial, di mana sentimen investor dan arah kebijakan moneter The Fed menjadi penentu utama. Pandangan Arthur Hayes yang optimistis, yang didasarkan pada potensi "stealth quantitative easing", memberikan harapan di tengah tekanan likuiditas dan penjualan besar-besaran oleh investor jangka panjang. Namun, ketidakpastian kebijakan The Fed dan sinyal-sinyal teknis yang beragam menuntut kehati-hatian. Jika Bitcoin tidak dapat bergerak kembali di atas resistensi terdekat dalam waktu dekat, harga mungkin akan melayang menuju area likuiditas tipis di dekat $98.000, yang akan mendukung pandangan yang lebih gelap untuk pasar. Bagi investor di Indonesia, mengikuti perkembangan ini menjadi penting untuk mengambil keputusan investasi yang terinformasi di tengah volatilitas pasar global.

Grafik harga Bitcoin yang menunjukkan penurunan signifikan setelah mencapai puncaknya, dengan indikator volatilitas pasar dan data dari CryptoQuant.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org