Bitcoin Stagnan di $90K: Mengapa Sulit Tembus Meskipun Inflasi Terkendali?

Grafik harga Bitcoin menunjukkan konsolidasi di bawah $90.000 dengan indikator ekonomi makro yang beragam, menyoroti tantangan likuiditas.

Harga Bitcoin (BTC) terus menunjukkan pola stagnasi di sekitar level $90.000, atau sekitar Rp1,4 miliar, meskipun data inflasi di Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mendingin dan Federal Reserve (The Fed) telah melakukan pemotongan suku bunga sebanyak tiga kali. Fenomena ini menarik perhatian banyak investor, termasuk di Indonesia, yang bertanya-tanya mengapa aset kripto paling populer ini kesulitan untuk menembus batas psikologis tersebut, seperti yang terjadi baru-baru ini pada tanggal 22 Desember.

Pengamatan terhadap buku pesanan (order books) di bursa besar seperti Binance dan Coinbase menunjukkan bahwa $90.000 bukan hanya sekadar batas psikologis atau dinding penjualan besar. Ada indikasi aktivitas penjualan limit yang terencana dan terus-menerus diperbarui setiap kali harga Bitcoin mendekati level tersebut, mengindikasikan strategi penjualan yang lebih canggih daripada sekadar kepanikan investor ritel. Meskipun secara makro kondisi terlihat bullish dengan inflasi yang melambat, di balik layar, data inflasi justru terlihat "berantakan" dan likuiditas Bitcoin sendiri tampak "kelelahan".

Key Points:

  • Data inflasi AS pada November menunjukkan penurunan di bawah ekspektasi, namun kualitas data tersebut dipertanyakan karena ketergantungan pada estimasi akibat penutupan pemerintahan.
  • The Fed bersikap hati-hati, mengakui arah inflasi yang positif tetapi tidak sepenuhnya percaya pada laporan tunggal yang "berisik" ini, sehingga menahan diri dari pelonggaran kebijakan moneter agresif.
  • Tingkat imbal hasil riil yang positif di AS membuat aset berisiko seperti Bitcoin kurang menarik dibandingkan obligasi pemerintah yang aman.
  • Meskipun Quantitative Tightening (QT) dihentikan, pembelian aset baru The Fed bersifat "teknis" dan bukan gelombang Quantitative Easing (QE) yang masif, sehingga tidak ada banjir likuiditas.
  • Kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Jepang (BOJ) berpotensi memicu unwinding "carry trade" yen, yang dapat menekan aset berisiko.
  • Likuiditas pasar Bitcoin menipis (kedalaman pasar turun 30%), dan adanya pasokan "underwater" (investor yang memegang kerugian) menciptakan tekanan jual setiap kali harga mendekati $90.000.

Fenomena Bitcoin di Ambang $90.000: Mengapa Sulit Ditembus?

Bitcoin, sebagai aset digital yang semakin matang, kini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen pasar kripto internal, tetapi juga oleh dinamika ekonomi makro global. Angka $90.000 menjadi titik krusial yang menantang analisis para ahli dan investor. Keengganan harga untuk bergerak di atas level ini menunjukkan adanya interaksi kompleks antara faktor ekonomi global dan karakteristik pasar Bitcoin itu sendiri.

Peran Data Inflasi AS yang "Tidak Sempurna"

Laporan CPI (Indeks Harga Konsumen) AS untuk November menunjukkan inflasi tahunan sebesar 2,7%, lebih rendah dari ekspektasi ekonom sebesar 3,1%, dengan inflasi inti turun menjadi 2,6%. Secara teori, angka ini adalah kabar baik bagi aset berisiko seperti Bitcoin, karena inflasi yang lebih rendah biasanya berarti kebijakan moneter yang lebih longgar dan kondisi yang lebih mudah bagi aset pertumbuhan atau lindung nilai inflasi. Investor di Indonesia, yang sering melihat Bitcoin sebagai alternatif investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global, akan menganggap ini sebagai sinyal positif.

Namun, laporan ini datang dengan catatan penting. Akibat penutupan pemerintahan selama enam minggu, AS tidak memublikasikan data CPI Oktober, dan sebagian besar data November harus diestimasi oleh para statistikawan, bukan dari pengamatan harga riil. Sewa dan beberapa layanan, yang memiliki bobot besar dalam CPI, mengandalkan angka model, bukan pembacaan pasar yang sebenarnya. Ketika data yang memengaruhi triliunan dolar berasal dari estimasi, pemain besar di pasar cenderung menarik diri dan menunggu kejelasan.

The Fed menyadari masalah ini. Gubernur John Williams menyebut angka inflasi "mendorong" tetapi juga memperingatkan bahwa distorsi akibat penutupan memengaruhi inflasi dan pengangguran. Ini berarti The Fed menyukai arahnya tetapi tidak cukup memercayai laporan tunggal ini untuk sepenuhnya melonggarkan kebijakan. Williams kemudian mengatakan "tidak ada kebutuhan mendesak" untuk pemotongan lebih lanjut dan menggambarkan kebijakan sebagai "seimbang," yang merupakan bahasa The Fed untuk "jangan berharap pesta pencetakan uang segera."

Kebijakan Bank Sentral: Fed yang Cautious dan BOJ yang Hawkish

Meski The Fed telah melakukan tiga kali pemotongan suku bunga, imbal hasil riil – yaitu suku bunga setelah inflasi – masih sekitar 1,9% untuk obligasi TIPS 10 tahun. Bandingkan dengan tahun 2020-2021, ketika suku bunga riil negatif, yang mendorong investor ke Bitcoin dan aset berisiko lainnya karena menahan uang tunai terasa merugikan. Hari ini, Anda sebenarnya mendapatkan pengembalian dari obligasi pemerintah yang aman, sehingga tekanan untuk mengejar Bitcoin dengan harga berapa pun jauh lebih rendah.

The Fed juga menghentikan pengetatan kuantitatif (quantitative tightening) pada 1 Desember. Ini terdengar bullish pada pandangan pertama, tetapi bank sentral menekankan bahwa pembelian aset barunya bersifat "teknis," bukan gelombang pelonggaran kuantitatif (quantitative easing) skala penuh yang baru. Ini seperti seorang mekanik yang menjaga mesin agar tidak mati, bukan menginjak gas. Artinya, belum ada tsunami likuiditas besar yang bisa mendorong BTC menembus $90.000.

Selain itu, Bank Sentral Jepang (BOJ) menaikkan suku bunga menjadi 0,75%, tertinggi dalam beberapa dekade. Banyak dana global biasanya meminjam yen murah dan berinvestasi dalam aset berisiko di seluruh dunia – ini dikenal sebagai "carry trade". Ketika Jepang perlahan-lahan menghilangkan jangkar suku bunga nol, investor tersebut tahu bahwa pergerakan yen yang tajam dapat memaksa mereka untuk mengakhiri perdagangan dan menjual aset, termasuk Bitcoin. Ancaman ini saja sudah membuat para trader berhati-hati untuk mengambil eksposur BTC baru yang besar di puncak kisaran harga.

Likuiditas dan Struktur Pasar Bitcoin yang Menipis

Faktor internal Bitcoin juga turut berperan dalam stagnasi harga. Dinamika likuiditas dan perilaku investor menjadi kunci untuk memahami pergerakan yang terjadi.

Dampak Likuiditas Pasar dan Investor "Underwater"

Data on-chain dari beberapa perusahaan analisis menunjukkan bahwa kedalaman pasar BTC – jumlah pesanan beli dan jual yang berada di dekat harga saat ini – turun sekitar 30% dari puncaknya di tahun 2025. Ini berarti buku pesanan lebih tipis. Bayangkan mencoba menjual tumpukan koin besar di pasar lokal kecil daripada di bursa saham raksasa; perdagangan Anda akan lebih banyak memengaruhi harga. Data ETF menceritakan kisah serupa: ETF Bitcoin mengalami miliaran dolar outflow pada bulan November, yang menguras sebagian permintaan mudah yang mendorong kenaikan Oktober ke $126.000.

Ada juga sebagian besar pasokan "underwater" antara sekitar $93.000 dan $120.000, di mana banyak pembeli mengalami kerugian. Setiap kali BTC melonjak menuju $90K dan di atasnya, beberapa pemegang ini sangat ingin menjual untuk mencapai titik impas. Ini menciptakan semacam "langit-langit" atau resistance. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada potensi kenaikan, tekanan jual dari investor yang ingin keluar dari posisi rugi dapat membatasi pergerakan ke atas.

Rekomendasi untuk Investor Bitcoin di Tengah Ketidakpastian

Bagi investor Bitcoin, terutama di Indonesia, kondisi pasar saat ini menuntut pendekatan yang bijaksana dan strategis.

Pentingnya Kesabaran dan Strategi Investasi Jangka Panjang

Pertama, anggaplah ini sebagai pengingat bahwa data makro bisa berantakan dan terlambat, sementara uang Anda adalah nyata dan instan. Laporan inflasi yang bergantung pada estimasi dapat menggoyahkan ekspektasi The Fed, yang pada gilirannya menggoyahkan Bitcoin, bahkan jika ekonomi fundamental tidak banyak berubah. Dana besar mengetahuinya, jadi mereka sering menunggu laporan "bersih" berikutnya sebelum membuat taruhan besar. Anda bisa meniru kesabaran itu.

Jika Anda sudah memegang Bitcoin, fluktuasi sideways di dekat angka bulat besar seperti ini adalah hal yang normal. BTC sempat stagnan di sekitar $70K dan $80K di awal 2025 ketika narasi makro terlihat tidak pasti, kemudian akhirnya bergerak setelah data baru dan likuiditas tiba. Yang lebih penting daripada menebak pergerakan $5.000 berikutnya adalah apakah Anda menyesuaikan posisi Anda dengan toleransi risiko dan horizon waktu Anda. Jika penurunan 20-30% akan merusak keuangan Anda, berarti Anda memegang terlalu banyak Bitcoin.

Jika Anda berpikir untuk membeli, jangan anggap "inflasi turun" sebagai sinyal lampu hijau. The Fed masih menjalankan suku bunga riil positif, Jepang baru perlahan-lahan menormalisasi, dan likuiditas Bitcoin menipis. Kombinasi itu berarti pergerakan tajam di kedua arah tetap terbuka. Strategi Dollar-Cost Averaging (DCA) – membeli sejumlah kecil secara teratur daripada satu jumlah besar – dapat mengurangi stres karena mencoba menentukan waktu breakout di atas $90K. Pendekatan "pelan tapi pasti" ini sangat cocok untuk kondisi pasar yang bergejolak.

Di atas segalanya, ingatlah bahwa Bitcoin tetap merupakan aset berisiko tinggi, bahkan jika ia berperilaku lebih seperti barometer makro sekarang. Jangan pernah menggunakan uang kebutuhan pokok atau tabungan darurat untuk mengejar breakout, tidak peduli seberapa bagus berita inflasi itu. Laporan CPI "bersih" berikutnya di awal 2026, dan setiap pergeseran dari kebijakan netral The Fed menuju pelonggaran nyata, kemungkinan akan menentukan apakah Bitcoin akhirnya menembus $90.000 dengan keyakinan atau menghabiskan lebih banyak waktu berputar-putar di kisaran ini.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org