Aset Digital: CEO Coinbase Prediksi Saham Tokenisasi Meledak

Brian Armstrong, CEO Coinbase, membahas potensi besar saham tokenisasi yang akan mengubah lanskap investasi global.

Key Points:

  • Larry Fink dari BlackRock memprediksi industri tokenisasi mencapai $1 triliun pada akhir dekade ini.
  • CEO Coinbase, Brian Armstrong, melihat saham tokenisasi sebagai "hal besar" yang akan datang lebih cepat dari perkiraan.
  • Miliaran dolar aset riil, terutama uang tunai dan US Treasuries, telah ditokenisasi di blockchain, khususnya Ethereum.
  • Keunggulan saham tokenisasi meliputi perdagangan 24/7, penyelesaian instan, potensi kepemilikan fraksional, dan biaya lebih rendah.
  • Meskipun demikian, regulator seperti SEC menegaskan bahwa sekuritas tokenisasi tetap tunduk pada peraturan yang ada.

Panggung keuangan global sedang mengalami pergeseran paradigma yang fundamental, didorong oleh kemajuan teknologi blockchain. Di tengah hiruk-pikuk inovasi ini, nama-nama besar di dunia keuangan dan kripto mulai menyuarakan optimisme tentang masa depan aset digital. Salah satu narasi yang paling menarik perhatian adalah tentang tokenisasi saham, sebuah konsep yang diprediksi akan merevolusi cara kita berinvestasi. Brian Armstrong, CEO Coinbase, salah satu bursa kripto terbesar di dunia, secara tegas menyatakan bahwa era saham tokenisasi akan tiba lebih cepat dari yang kita duga, membawa gelombang baru versi digital dari saham tradisional ke dalam ranah blockchain.

Prediksi Armstrong ini bukanlah tanpa dasar. Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada awal tahun 2025, Larry Fink, CEO BlackRock—manajer aset terbesar di dunia—telah meramalkan bahwa tokenisasi akan menjadi industri bernilai $1 triliun pada akhir dekade. Hanya sekitar setahun kemudian, kita telah menyaksikan miliaran dolar aset, sebagian besar berupa uang tunai dan obligasi pemerintah AS (US Treasuries), berhasil ditokenisasi di berbagai blockchain terkemuka, terutama Ethereum. Ini menunjukkan bahwa fondasi untuk revolusi ini telah diletakkan, dan adopsi semakin meluas.

Revolusi Investasi: Memahami Saham Tokenisasi

Bagi banyak investor di Indonesia, konsep saham tokenisasi mungkin masih terdengar asing. Namun, pada dasarnya, saham tokenisasi adalah representasi digital dari saham perusahaan sungguhan, seperti Apple atau Tesla, yang diwujudkan dalam bentuk token di atas sebuah blockchain. Bayangkan saja ini sebagai kuitansi digital yang, alih-alih bergerak di bursa saham tradisional, berpindah tangan di jaringan blockchain. Artinya, Anda akan memperdagangkannya melalui dompet kripto Anda, bukan rekening broker konvensional.

Apa yang membuat saham tokenisasi begitu menarik? Ada beberapa keunggulan signifikan yang ditawarkannya. Pertama, perdagangan saham tokenisasi dapat berlangsung 24 jam sehari, 7 hari seminggu, tanpa henti. Ini kontras dengan pasar saham tradisional yang memiliki jam operasional terbatas. Kedua, penyelesaian transaksi dapat terjadi hampir secara instan, tidak perlu menunggu berhari-hari seperti proses penyelesaian T+2 atau T+3 yang umum di pasar saham konvensional. Ketiga, saham tokenisasi memungkinkan investor untuk membeli dalam pecahan yang lebih kecil, membuka pintu bagi lebih banyak individu, termasuk investor ritel di Indonesia, untuk berpartisipasi dalam pasar saham global dengan modal yang lebih fleksibel. Terakhir, dengan menghilangkan banyak perantara, blockchain berpotensi mengurangi biaya transaksi, menjadikannya pilihan yang lebih ekonomis.

Minat Coinbase terhadap sekuritas tokenisasi sebenarnya bukan hal baru. Sejak tahun 2021, Coinbase telah secara aktif mendorong pengembangan di area ini, dengan keyakinan bahwa blockchain dapat memindahkan saham jauh lebih cepat dan lebih murah dibandingkan infrastruktur keuangan lama. Bahkan, mereka telah memperkenalkan "Coinbase Tokenize" yang secara khusus ditujukan untuk institusi, menunjukkan komitmen serius dalam memajukan segmen pasar ini.

Gelombang Pertumbuhan Aset Dunia Nyata (RWA) yang Ditokenisasi

Pasar tokenisasi kini telah jauh melampaui ceruk kecil. Salah satu segmen yang tumbuh pesat adalah stablecoin, yaitu mata uang digital yang nilainya dipatok pada aset stabil, biasanya Dolar AS. Hingga awal Januari, lebih dari $310 miliar stablecoin telah dicetak dan beredar, menunjukkan penerimaan yang luas terhadap bentuk uang digital ini.

Namun, bukan hanya stablecoin yang mengalami pertumbuhan. Saham publik yang ditokenisasi juga mulai mendapatkan momentum. Hingga 12 Januari, lebih dari $800 juta saham publik telah ditokenisasi. Fenomena ini menarik perhatian banyak platform perdagangan kripto terkemuka seperti Kraken, Bybit, KuCoin, dan bahkan Robinhood, yang kini secara aktif meluncurkan produk-produk tokenisasi. Sebagai contoh, Robinhood sekarang menawarkan lebih dari 200 saham tokenisasi di Eropa, memperluas jangkauan investasi bagi penggunanya.

Bahkan, institusi keuangan besar juga turut berpartisipasi. Galaxy Digital, misalnya, telah melakukan eksperimen dengan menokenisasi 32.374 saham AS miliknya sendiri di blockchain Solana. Ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar mulai bergerak melampaui sekadar salinan sintetis menjadi eksperimen nyata dengan saham yang ditokenisasi. Secara keseluruhan, aset dunia nyata yang ditokenisasi, termasuk saham, obligasi, dan dana investasi, kini telah mencapai lebih dari $375 miliar di berbagai blockchain. Pertumbuhan eksplosif inilah yang menjelaskan mengapa Coinbase terus menekankan tokenisasi dalam prospeknya untuk tahun 2026.

Peluang Baru bagi Investor Indonesia

Jika saham tokenisasi dapat berfungsi sesuai harapan, dampaknya pada akses investasi akan sangat transformatif. Investor di Indonesia, misalnya, berpotensi dapat memperdagangkan saham-saham perusahaan AS tanpa perlu membuka rekening broker AS yang rumit dan seringkali mahal. Ini akan membuka gerbang investasi global bagi lebih banyak orang. Selain itu, kecepatan penyelesaian transaksi yang hampir instan akan menghilangkan periode tunggu dua hari kerja yang biasa, meningkatkan efisiensi pasar.

Dari segi biaya, blockchain dapat memangkas lapisan-lapisan perantara, yang berarti potensi biaya yang lebih rendah, terutama untuk perdagangan berskala kecil. Bagi investor pemula di Indonesia, hal ini dapat menghilangkan salah satu hambatan utama untuk memulai berinvestasi. Bagi perusahaan seperti Coinbase, ini membuka lini bisnis baru di luar perdagangan kripto spot, yang berarti lebih banyak produk dan lebih banyak pendapatan dari biaya transaksi.

Menavigasi Lanskap Regulasi

Meskipun potensi saham tokenisasi sangat menjanjikan, para regulator global, termasuk di Indonesia, tentu saja mengamati perkembangan ini dengan cermat. Komisaris SEC (Badan Pengawas Pasar Modal AS), Hester Peirce, dengan tegas menyatakan bahwa sekuritas tokenisasi tetaplah sekuritas, meskipun mereka berada di blockchain. Ini berarti bahwa semua aturan dan regulasi yang berlaku untuk sekuritas tradisional akan tetap diterapkan pada versi tokenisasinya.

Untuk mengatasi hal ini, beberapa platform kripto menawarkan eksposur sintetis tanpa kepemilikan saham riil, sementara yang lain menjamin token didukung satu-banding-satu dengan saham sungguhan. Penting bagi investor untuk memahami perbedaan ini dan memeriksa dengan cermat model yang ditawarkan oleh masing-masing platform. Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) kemungkinan besar akan memiliki pandangan serupa, menekankan pentingnya lisensi yang tepat dan pengawasan ketat untuk melindungi investor.

Singkatnya, visi Brian Armstrong tentang kedatangan saham tokenisasi yang lebih cepat dari dugaan adalah cerminan dari pergeseran yang tak terhindarkan dalam dunia keuangan. Dengan berbagai keunggulan yang ditawarkannya—mulai dari aksesibilitas global, efisiensi transaksi, hingga potensi pengurangan biaya—saham tokenisasi siap mengubah lanskap investasi. Meskipun tantangan regulasi tetap ada, inovasi ini menjanjikan masa depan keuangan yang lebih inklusif dan efisien bagi semua, termasuk bagi para investor di Indonesia.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org