Geopolitik Guncang Pasar: Emas Melesat, Bitcoin Tergelincir di $90k

Grafik harga Bitcoin yang menunjukkan penurunan tajam di tengah kekhawatiran pasar global akibat ketegangan geopolitik di Greenland.

Dinamika geopolitik global kembali menunjukkan taringnya, mengguncang pasar keuangan dan menciptakan ketidakpastian di kalangan investor. Pada awal Januari 2026 ini, ketegangan terkait sengketa tarif atas Greenland memicu pergerakan harga aset yang signifikan: emas, sebagai aset lindung nilai tradisional, melesat ke rekor tertinggi sepanjang masa (ATH), sementara Bitcoin, mata uang kripto terbesar, justru tergelincir mendekati angka $90.000. Fenomena ini sekali lagi menyoroti bagaimana peristiwa makroekonomi dan politik internasional dapat memengaruhi aset digital maupun komoditas fisik, menuntut para investor, termasuk di Indonesia, untuk lebih cermat dalam menyusun strategi investasi mereka.

Key Points

  • Ketegangan geopolitik terkait sengketa tarif Greenland antara AS dan Eropa menjadi pemicu utama volatilitas pasar global, mendorong investor menarik diri dari aset berisiko.
  • Emas mengalami lonjakan harga yang signifikan, mencapai rekor tertinggi baru, menegaskan perannya sebagai aset safe-haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik.
  • Bitcoin mengalami penurunan sekitar 2,8% dan diperdagangkan di sekitar $92.000, mencerminkan sentimen risk-off yang dominan di pasar kripto.
  • Meskipun terjadi penurunan, beberapa analis melihat adanya potensi rebound bagi Bitcoin menuju $99.000 setelah sentimen pasar stabil.
  • Data likuiditas AS menunjukkan adanya perbaikan, yang secara historis berkorelasi dengan pemulihan pasar kripto, mengindikasikan bahwa Bitcoin mungkin sedang membentuk basis untuk pergerakan harga yang lebih stabil.

Geopolitik Global dan Resonansinya di Pasar Keuangan

Peristiwa geopolitik memiliki daya untuk mengubah lanskap pasar keuangan dalam sekejap. Sengketa tarif yang melibatkan Greenland, sebuah isu yang mungkin terdengar jauh, ternyata memiliki dampak global yang signifikan. Ancaman Presiden AS mengenai pengenaan tarif baru terhadap negara-negara Eropa, jika permintaannya untuk membeli wilayah tersebut tidak dipenuhi, memicu kekhawatiran akan perang dagang skala besar. Ancaman ini, yang mencakup pengenaan tarif 10% mulai 1 Februari 2026 dan berpotensi naik menjadi 25% pada 1 Juni 2026 jika kesepakatan tidak tercapai, langsung menciptakan reaksi risk-off di seluruh pasar.

Konflik Tarif Greenland: Pemicu Volatilitas Pasar

Ancaman tarif yang disampaikan oleh Presiden AS tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters, adalah pemicu langsung bagi guncangan pasar. Investor dengan cepat menarik modal dari aset-aset yang dianggap berisiko dan beralih ke aset yang lebih aman. Dampaknya terasa di berbagai kelas aset: mata uang, ekuitas, dan tentu saja, mata uang kripto. Kekhawatiran akan spiral eskalasi konflik dagang, seperti yang diperingatkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF), memicu aksi jual di pasar Eropa dan global, menciptakan suasana tegang dan spekulatif.

Dalam situasi seperti ini, emas kembali menunjukkan kekuatannya sebagai aset safe-haven. Logam mulia ini melambung ke rekor tertinggi sepanjang masa, dengan perak juga mengalami lonjakan. Hal ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian dan potensi konflik, investor cenderung mencari perlindungan pada aset yang secara historis terbukti memiliki nilai intrinsik dan kurang terpengaruh oleh gejolak politik jangka pendek. Bagi investor di Indonesia, lonjakan harga emas ini dapat menjadi indikator penting mengenai sentimen pasar global terhadap risiko, yang juga dapat memengaruhi keputusan investasi domestik.

Reaksi Bitcoin: Antara Aset Berisiko dan Potensi Rebound

Bitcoin, yang sering disebut sebagai "proksi likuid untuk risiko" oleh Reuters, tidak luput dari dampak ketegangan geopolitik ini. Pada hari Selasa, Bitcoin tergelincir sekitar 2,8%, diperdagangkan di kisaran $92.759 setelah menyentuh level terendah intraday $92.245. Penurunan ini mencerminkan bagaimana Bitcoin, meskipun sering dipromosikan sebagai lindung nilai terhadap inflasi atau sistem keuangan tradisional, masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen risiko global.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa banyak pelaku pasar masih menganggap Bitcoin sebagai aset berisiko tinggi yang cenderung dijual pada saat terjadi ketidakpastian. Ketika pasar global menghadapi gejolak, dana cenderung beralih ke aset yang lebih stabil seperti yen Jepang atau franc Swiss, yang secara historis dianggap sebagai mata uang safe-haven. Data dari CoinGlass menunjukkan volume perdagangan spot Bitcoin mencapai $6,58 miliar, sementara volume futures mencapai sekitar $62,4 miliar. Liquidasi kontrak futures Bitcoin juga cukup signifikan, mencapai sekitar $235,7 juta, dengan open interest sekitar $61,28 miliar. Angka-angka ini mengindikasikan aktivitas perdagangan yang intens dan volatilitas yang tinggi di pasar derivatif Bitcoin, menunjukkan bahwa banyak investor melakukan spekulasi atau mencoba melindungi posisi mereka di tengah gejolak pasar.

Analisis Pergerakan Harga Bitcoin di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Meskipun mengalami penurunan, ada indikasi bahwa Bitcoin mungkin sedang membentuk dasar setelah koreksi signifikan. Aktivitas derivatif on-chain, seperti yang ditunjukkan oleh dashboard perpetuals DeFiLlama, tetap tinggi dengan volume perp mencapai sekitar $139,87 juta selama seminggu terakhir. Ini menunjukkan bahwa meskipun sentimen risiko mendominasi, masih ada partisipasi aktif dari para pelaku pasar, yang bisa menjadi sinyal adanya akumulasi atau persiapan untuk pergerakan harga selanjutnya.

Faktor Makroekonomi dan Likuiditas Global

Untuk memahami pergerakan Bitcoin, penting untuk melihat faktor makroekonomi yang lebih luas, khususnya tren likuiditas. Pada grafik harian, BTC/USD mencapai puncaknya di atas $120.000 pada awal tahun 2025 sebelum memasuki tren turun yang jelas, ditandai dengan puncak yang lebih rendah dan lembah yang lebih rendah. Tekanan jual intensif pada November 2025, ketika harga sempat merosot ke kisaran $80.000an.

Namun, ada secercah harapan dari data likuiditas AS. Menurut data dari Capriole, pertumbuhan likuiditas AS secara year-over-year mencapai titik terendah pada November 2025, bertepatan dengan titik terendah lokal Bitcoin. Sejak saat itu, likuiditas mulai membaik dan menjadi tidak terlalu negatif memasuki awal tahun 2026. Jika tren ini berlanjut, ini bisa menjadi sinyal makroekonomi yang kuat bahwa Bitcoin sedang membentuk basis untuk pergeseran tren yang lebih luas, bukan hanya pantulan singkat. Peningkatan likuiditas cenderung mendukung aset-aset berisiko, termasuk kripto, karena lebih banyak modal tersedia untuk investasi.

Prediksi Harga Bitcoin: Potensi Pembentukan Basis dan Pemulihan

Saat ini, Bitcoin tampaknya sedang membangun basis dan bergerak dalam fase konsolidasi. Level terendah yang lebih tinggi telah terbentuk di sekitar area $85.000 hingga $88.000, sementara resistensi membatasi pergerakan di dekat $95.000 hingga $97.000. Pengaturan ini menunjukkan bahwa tekanan jual telah mereda, meskipun momentum kenaikan masih tertahan. Ini adalah fase penting di mana pasar mencoba menemukan keseimbangan baru sebelum bergerak ke arah yang jelas.

Beberapa analis masih melihat ruang untuk rebound menuju $99.000 setelah sentimen pasar stabil. Potensi ini sangat bergantung pada perkembangan lebih lanjut dari ketegangan geopolitik dan tren likuiditas global. Bagi investor di Indonesia, memahami fase konsolidasi ini sangat penting. Ini mungkin bukan waktu untuk panik jual, melainkan untuk mengevaluasi kembali portofolio dan mempertimbangkan potensi pemulihan jika kondisi makro membaik. Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) mungkin relevan untuk mengakumulasi aset secara bertahap dalam fase ini.

Melihat ke Depan: Implikasi Bagi Investor di Indonesia

Dalam menghadapi dinamika pasar yang kompleks ini, investor di Indonesia perlu mengadopsi pendekatan yang hati-hati namun strategis. Volatilitas Bitcoin, yang diperburuk oleh peristiwa geopolitik, mengingatkan kita akan pentingnya manajemen risiko yang solid. Diversifikasi portofolio menjadi kunci, tidak hanya di antara berbagai jenis mata uang kripto tetapi juga antara aset tradisional seperti saham, obligasi, dan emas.

Memantau perkembangan geopolitik, kebijakan moneter bank sentral utama, serta tren likuiditas global adalah hal esensial. Investor juga harus memahami bahwa pasar kripto, meskipun semakin matang, masih sangat terhubung dengan sentimen risiko global. Edukasi yang berkelanjutan dan penggunaan analisis fundamental serta teknikal dapat membantu membuat keputusan investasi yang lebih terinformasi. Meskipun ada tantangan, potensi inovasi dan pertumbuhan jangka panjang di sektor kripto tetap menarik bagi banyak investor yang bersedia menanggung risiko yang melekat.

Kesimpulannya, ketegangan geopolitik di sekitar Greenland telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar keuangan global, mendorong emas ke puncak baru sementara Bitcoin mengalami kemunduran. Namun, di balik volatilitas jangka pendek ini, sinyal likuiditas yang membaik dan pembentukan basis harga Bitcoin menunjukkan bahwa mungkin ada fondasi untuk pemulihan di masa depan. Bagi investor di Indonesia, kunci untuk menavigasi lingkungan ini adalah tetap tenang, terinformasi, dan disiplin dalam strategi investasi.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org