Hyperliquid Dominasi Likuidasi BTC $150 Juta Saat Koreksi Harga

Grafik Coinglass yang menampilkan total likuidasi long dan short di berbagai bursa kripto, menyoroti puncak likuidasi saat Bitcoin terkoreksi.

Pasar kripto kembali dikejutkan dengan koreksi harga Bitcoin yang tajam pada Kamis, 8 Januari 2026. Penurunan drastis di bawah $90.000 memicu gelombang likuidasi besar-besaran pada posisi long yang menggunakan leverage, mengakibatkan kerugian signifikan di seluruh pasar. Peristiwa ini bukan hanya sekadar fluktuasi harga biasa, melainkan sebuah pengingat akan risiko inheren yang melekat pada investasi di aset digital yang sangat volatil.

Poin Penting

  • Koreksi tajam Bitcoin menyebabkan likuidasi besar-besaran senilai sekitar $150 juta pada posisi long, dengan platform Hyperliquid menyumbang sepertiga dari total kerugian.
  • Arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot AS, khususnya dari IBIT BlackRock dan FBTC Fidelity, menjadi salah satu pemicu utama di balik koreksi harga Bitcoin ini.
  • Token asli Hyperliquid, HYPE, menunjukkan pola "bearish flag" pada grafik 12 jam, mengindikasikan potensi penurunan lebih lanjut menuju zona $19 menurut analisis teknikal.
  • Peristiwa ini menyoroti risiko penggunaan leverage yang tinggi dan urgensi manajemen risiko yang cermat bagi para investor di pasar kripto yang dikenal sangat fluktuatif.

Volatilitas Bitcoin dan Dampaknya pada Pasar Kripto Global

Pada tanggal 8 Januari 2026, Bitcoin mengalami guncangan signifikan yang menyebabkan harganya merosot tajam di bawah level $90.000. Penurunan ini memicu efek domino, membersihkan sejumlah besar posisi long yang didukung oleh leverage di berbagai bursa kripto. Data dari CoinGlass menunjukkan bahwa sekitar $145 juta dalam posisi long dilikuidasi dalam dua gelombang cepat dalam rentang waktu satu jam. Fenomena ini, yang sering disebut sebagai "shakeout", adalah bagian tak terhindarkan dari siklus pasar kripto yang berfungsi untuk menghilangkan spekulasi berlebihan dan posisi yang terlalu berisiko. Bagi investor di Indonesia, peristiwa semacam ini menjadi cerminan bahwa pasar kripto global memiliki dampak langsung pada dinamika investasi domestik, menuntut kehati-hatian dan strategi yang matang.

Kronologi Gelombang Likuidasi Massal

Gelombang likuidasi pertama terjadi sekitar pukul 07:00 UTC, menghapus $88,23 juta. Hanya satu jam kemudian, pada pukul 08:00 UTC, gelombang kedua menyusul dengan likuidasi tambahan sebesar $57,02 juta, saat Bitcoin sempat tergelincir di bawah angka $90.000. Total likuidasi yang mendekati $150 juta dalam waktu singkat menunjukkan betapa cepatnya pasar dapat berbalik arah dan konsekuensi penggunaan leverage yang tidak terkontrol. Peristiwa ini menegaskan bahwa bahkan aset sepopuler Bitcoin pun tidak imun terhadap koreksi harga yang mendadak dan agresif.

Dominasi Hyperliquid dalam Peristiwa Likuidasi

Di antara berbagai platform perdagangan berjangka, Hyperliquid tercatat mengalami dampak terparah. Bursa perpetual yang sedang naik daun ini mencatat sekitar $45 juta dalam likuidasi selama aksi jual tersebut. Hyperliquid juga menjadi tuan rumah untuk perintah paksa terbesar dalam periode tersebut, yaitu hampir $3,63 juta. Dengan menyumbang sekitar sepertiga dari total kerugian dalam satu jam itu, Hyperliquid menunjukkan bagaimana leverage dapat dengan cepat terurai di satu platform ketika harga anjlok tanpa peringatan. Ini memberikan pelajaran penting mengenai konsentrasi risiko dalam ekosistem DeFi, di mana satu platform dapat menanggung beban likuidasi yang tidak proporsional.

Faktor Pemicu Koreksi: Arus Keluar dari ETF Bitcoin Spot AS

Tekanan jual di pasar semakin diperparah oleh laporan mengenai arus keluar bersih dari ETF Bitcoin spot di AS. Farside Investors melaporkan bahwa pada 7 Januari, terdapat total arus keluar bersih sebesar $486,1 juta. Penarikan terbesar datang dari IBIT milik BlackRock sebesar $130 juta dan FBTC milik Fidelity sebesar $247,6 juta. Pergeseran sentimen dari investor institusional ini, yang tercermin dalam arus keluar ETF, seringkali menjadi sinyal bagi pasar yang lebih luas. Ketika permintaan dari investor institusional melunak atau bahkan berbalik arah, hal itu dapat menciptakan tekanan jual yang signifikan, yang kemudian diperkuat oleh likuidasi posisi leverage. Investor di Indonesia perlu memantau tren ini karena pergerakan dana institusional di pasar global seringkali menjadi indikator arah pasar kripto secara umum.

Analisis Teknikal HYPE: Memprediksi Arah Token Hyperliquid

Terlepas dari kondisi pasar Bitcoin, token asli Hyperliquid, HYPE, juga menghadapi tantangan. Menurut analisis terbaru dari analis kripto Ali Martinez, HYPE menunjukkan hilangnya momentum pada kerangka waktu yang lebih tinggi. Grafik 12 jam HYPE membentuk apa yang tampak seperti pola "bearish flag" setelah penurunan tajam dari zona $36. Pola ini terbentuk ketika harga bergerak naik dalam saluran sempit setelah penurunan signifikan, menciptakan titik terendah yang lebih tinggi dan titik tertinggi yang lebih tinggi di antara dua garis paralel. Struktur semacam ini biasanya mengindikasikan jeda dalam tren penurunan, bukan pemulihan penuh. Ini menunjukkan bahwa pembeli berusaha menstabilkan pasar setelah aksi jual yang intens, namun tanpa kendali yang kuat.

HYPE sempat menyentuh batas atas pola "flag" di dekat $28 dan kemudian ditarik kembali, yang menunjukkan bahwa penjual masih aktif di level tersebut. Kegagalan untuk bertahan di atas resistensi telah mendorong momentum jangka pendek kembali menurun. Sebuah penembusan bersih di bawah garis tren bawah akan mengkonfirmasi kelanjutan penurunan sebelumnya. "Jika pola flag ini pecah ke bawah, Hyperliquid bisa menuju zona $19," kata Martinez, mencatat bahwa area ini sejalan dengan level dukungan sebelumnya. Bagi para pedagang, pengamatan terhadap apakah pola ini akan pecah ke sisi bawah atau apakah pembeli dapat masuk dan merebut kembali area yang hilang akan menjadi kunci dalam beberapa waktu mendatang.

Implikasi Bagi Investor Kripto di Indonesia

Peristiwa likuidasi besar-besaran dan koreksi harga Bitcoin ini membawa pelajaran berharga bagi investor kripto di Indonesia. Volatilitas adalah ciri khas pasar ini, dan penggunaan leverage dapat memperbesar keuntungan sekaligus risiko kerugian secara eksponensial. Penting bagi investor untuk memiliki strategi manajemen risiko yang solid, termasuk menetapkan batas kerugian (stop-loss), tidak menginvestasikan lebih dari yang siap hilang, dan mendiversifikasi portofolio. Memahami fundamental pasar global, seperti sentimen institusional yang ditunjukkan oleh arus ETF, juga krusial dalam membuat keputusan investasi yang tepat. Edukasi berkelanjutan dan sikap hati-hati adalah kunci untuk menavigasi pasar kripto yang dinamis ini.

Kesimpulan: Menavigasi Pasar Kripto yang Dinamis

Koreksi harga Bitcoin yang baru-baru ini terjadi dan likuidasi besar-besaran di Hyperliquid adalah pengingat yang jelas akan sifat pasar kripto yang berisiko tinggi dan berpotensi memberikan imbal hasil tinggi. Meskipun dapat menjadi peluang, ini juga menuntut kehati-hatian yang ekstrem, terutama bagi mereka yang menggunakan leverage. Investor perlu terus memantau perkembangan pasar, baik dari sisi data on-chain maupun sentimen institusional, serta mengembangkan strategi investasi yang tangguh dan adaptif. Dengan pendekatan yang terinformasi dan disiplin, investor dapat lebih baik dalam menghadapi gejolak pasar dan mengambil keuntungan dari potensi pertumbuhan jangka panjang yang ditawarkan oleh aset digital.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org