Hyperliquid Ungguli Binance? Analisis Likuiditas Kripto DEX
Dunia mata uang kripto tak henti-hentinya menyajikan dinamika kompetisi yang sengit, terutama di ranah bursa perdagangan. Binance, sebagai raksasa bursa terpusat (CEX), telah lama mendominasi dengan volume perdagangan dan jumlah klien terbanyak di seluruh dunia. Namun, posisinya sebagai entitas terpusat dan kustodial, yang mengharuskan penggunanya menyerahkan kendali atas kunci pribadi mereka, mulai mendapatkan tantangan serius dari platform desentralisasi.
Dalam beberapa bulan terakhir, Hyperliquid, sebuah bursa desentralisasi (DEX), telah menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Platform ini tidak hanya beroperasi secara desentralisasi, menawarkan alternatif langsung terhadap model Binance, tetapi juga terus menyempurnakan penawaran layanannya. Klaim sensasional pun muncul dari Jeff Yan, pendiri Hyperliquid, yang melalui sebuah postingan di X menyatakan bahwa Hyperliquid secara "diam-diam" telah mencapai tonggak sejarah penting: menjadi tempat paling likuid untuk penemuan harga kripto secara global, bahkan melampaui Binance.
Key Points
- Hyperliquid, sebuah DEX, mengklaim telah melampaui Binance dalam hal likuiditas untuk kontrak berjangka Bitcoin.
- Inovasi seperti protokol HIP-3 dan HYPE staking memungkinkan Hyperliquid menawarkan spread yang lebih ketat dan kedalaman order book yang lebih baik.
- Kritikus berpendapat bahwa likuiditas Hyperliquid mungkin bersifat 'hantu' karena prioritas pembatalan order yang melindungi market maker.
- Binance masih mempertahankan keunggulannya dalam volume perdagangan harian dan jumlah pengguna global yang masif.
- Persaingan antara CEX dan DEX ini mendorong inovasi dan memberikan opsi lebih beragam bagi investor kripto, termasuk di Indonesia.
Revolusi Likuiditas Kripto: Hyperliquid Menantang Raksasa Binance
Klaim berani dari Jeff Yan tersebut didasari oleh perbandingan langsung kontrak perpetual Bitcoin, di mana Hyperliquid menampilkan spread yang lebih ketat, sekitar $1, dan kedalaman order book yang lebih substansial, mencapai 140 BTC. Ini kontras dengan Binance yang dilaporkan memiliki spread lebih lebar dan kedalaman yang lebih dangkal pada snapshot yang sama. Indikator ini sangat penting karena spread yang ketat dan kedalaman order book yang dalam mencerminkan efisiensi pasar dan kemampuan untuk mengeksekusi order besar tanpa secara signifikan memengaruhi harga.
Keunggulan Desentralisasi Hyperliquid
Salah satu daya tarik utama Hyperliquid adalah sifatnya yang desentralisasi dan non-kustodial. Dalam konteks pasar kripto yang terus berkembang di Indonesia, di mana kesadaran akan keamanan aset digital dan kontrol atas kunci pribadi semakin meningkat, model ini menawarkan solusi yang menarik. Pengguna tidak perlu melepaskan kendali atas aset mereka kepada pihak ketiga, mengurangi risiko peretasan atau penyalahgunaan dana yang sering terjadi pada bursa terpusat. Keamanan dan otonomi ini menjadi nilai jual yang kuat bagi investor kripto yang mengutamakan prinsip desentralisasi.
Mekanisme Likuiditas Inovatif: Peran HIP-3
Peningkatan likuiditas dan spread yang lebih baik di Hyperliquid sebagian besar dikaitkan dengan lonjakan penggunaan protokol HIP-3. Pembaruan ini memungkinkan pengguna untuk membuat pasar perpetual secara trustlessly melalui staking token HYPE. Dengan hanya mempertaruhkan 500.000 HYPE, siapa pun dapat meluncurkan produk perpetual baru. Mekanisme ini telah memicu pertumbuhan minat terbuka (open interest) terkait HIP-3 hampir tiga kali lipat dalam satu bulan, dari $260 juta menjadi $790 juta. Mayoritas pertumbuhan ini didorong oleh permintaan yang melonjak untuk komoditas on-chain, khususnya emas dan perak, menunjukkan fleksibilitas dan adaptabilitas platform.
Perbandingan Spreads dan Kedalaman Order Book
Dengan spread yang lebih baik dan likuiditas yang lebih dalam, Hyperliquid kini memposisikan diri sebagai pasar perpetual desentralisasi yang dominan, terutama jika dilihat dari sisi open interest. Selain itu, rasio volume DEX Hyperliquid terhadap Binance telah meningkat dari +8% menjadi +14% pada awal tahun 2026, mengindikasikan adopsi yang terus bertumbuh. Performa tinggi ini didukung oleh infrastruktur blockchain Hyperliquid yang mampu menawarkan finalitas transaksi sub-detik dan memproses lebih dari 200.000 order per detik, memberikan pengalaman perdagangan yang sering disamakan dengan CEX tetapi tanpa mengorbankan kendali pengguna.
Mengapa Binance Tetap Unggul? Sisi Lain Likuiditas
Meskipun Hyperliquid menunjukkan kemajuan signifikan, tidak semua pihak yakin bahwa DEX ini telah sepenuhnya melampaui Binance. Para kritikus berpendapat bahwa klaim CEO Hyperliquid mungkin terlalu mengandalkan metrik yang "dangkal" dan mengabaikan perbedaan fundamental dalam desain operasional antara kedua platform tersebut. Perdebatan ini menyoroti kompleksitas dalam mengukur likuiditas pasar secara akurat, terutama ketika membandingkan model CEX dan DEX.
Fenomena Likuiditas "Hantu" di DEX?
Salah satu poin krusial yang diangkat adalah bagaimana Hyperliquid memprioritaskan order "batal" untuk melindungi market maker dari aliran perdagangan yang tidak menguntungkan (toxic flow). Ini berbeda dengan Binance, di mana market maker harus menghadapi seleksi yang lebih buruk dan risiko yang lebih tinggi dari bot agresif, memaksa mereka untuk lebih konservatif dalam penawaran. Di Hyperliquid, market maker dapat menawarkan ukuran order yang lebih besar karena mereka tahu dapat membatalkan order secara instan jika harga bergerak melawan mereka. Oleh karena itu, kritikus berargumen bahwa likuiditas Hyperliquid mungkin tampak dalam, tetapi pada kenyataannya, sebagian besar terdiri dari order "hantu" yang dapat ditarik kapan saja, sehingga berpotensi tidak se-realistis likuiditas di CEX.
Volume Perdagangan dan Basis Pengguna
Terlepas dari perdebatan likuiditas, Binance masih memegang keunggulan mutlak dalam hal volume perdagangan harian, yang seringkali melebihi $10 miliar. Hyperliquid, meskipun berkembang pesat, masih hanya mampu menarik sekitar 50% dari volume tersebut. Volume harian yang superior ini juga didukung oleh basis klien Binance yang sangat besar, mencapai lebih dari 170 juta pengguna di seluruh dunia, jauh melampaui jumlah pengguna Hyperliquid. Skala operasi dan jangkauan global Binance memberikan keunggulan komparatif yang signifikan dalam hal aksesibilitas dan ekosistem perdagangan yang mapan.
Tantangan dan Keunggulan Model CEX
Model CEX seperti Binance, meskipun memiliki kekurangan dalam aspek desentralisasi dan kustodial, menawarkan kemudahan penggunaan, kecepatan, dan fitur yang seringkali lebih lengkap bagi pengguna awam. Likuiditas yang terpusat memungkinkan agregasi order yang lebih efisien dan pengalaman perdagangan yang mulus. Bagi banyak pengguna di Indonesia, faktor kemudahan akses dan dukungan pelanggan yang solid dari CEX masih menjadi pertimbangan utama. Namun, inovasi dari DEX seperti Hyperliquid terus mendorong CEX untuk beradaptasi dan meningkatkan layanannya, menciptakan lingkungan yang lebih kompetitif dan menguntungkan bagi konsumen.
Implikasi Bagi Pasar Kripto Indonesia
Persaingan antara Hyperliquid dan Binance, atau secara lebih luas, antara DEX dan CEX, memiliki implikasi penting bagi pasar kripto di Indonesia. Dengan semakin banyaknya pilihan platform, investor Indonesia mendapatkan akses ke berbagai model perdagangan yang sesuai dengan preferensi risiko dan kebutuhan mereka. Pertumbuhan DEX seperti Hyperliquid menunjukkan tren yang menarik menuju desentralisasi yang lebih besar, menawarkan transparansi dan kontrol aset yang lebih baik. Ini sejalan dengan semangat inovasi di sektor keuangan digital Indonesia.
Bagi regulator di Indonesia, dinamika ini juga menjadi pelajaran berharga dalam merumuskan kebijakan yang dapat mendukung inovasi sambil tetap menjaga perlindungan konsumen. Hadirnya platform dengan likuiditas tinggi dan fitur canggih seperti Hyperliquid dapat mendorong adopsi kripto lebih lanjut di Indonesia, asalkan ekosistem pendukungnya terus berkembang dan edukasi pasar dilakukan secara berkelanjutan. Pada akhirnya, kompetisi ini akan memaksa semua pemain untuk berinovasi dan memberikan layanan terbaik, demi kemajuan ekosistem kripto di tanah air.
Kesimpulan
Klaim Hyperliquid untuk melampaui Binance dalam likuiditas adalah indikasi kuat dari pertumbuhan dan inovasi yang pesat dalam ruang DEX. Dengan spread yang ketat, kedalaman order book yang substansial, dan peningkatan open interest berkat protokol HIP-3, Hyperliquid jelas merupakan pemain yang patut diperhitungkan. Namun, penting untuk mengakui bahwa Binance masih memegang keunggulan signifikan dalam hal volume perdagangan harian dan basis pengguna global yang masif. Perdebatan seputar "likuiditas hantu" juga menyoroti perbedaan struktural antara CEX dan DEX yang harus dipahami.
Pada akhirnya, persaingan sehat antara platform terpusat dan desentralisasi ini menguntungkan seluruh ekosistem kripto, termasuk di Indonesia. Hal ini mendorong inovasi, meningkatkan efisiensi pasar, dan memberikan lebih banyak pilihan bagi investor. Pasar kripto adalah entitas yang terus berevolusi, dan cerita Hyperliquid versus Binance ini adalah babak menarik dalam narasi perkembangan keuangan digital global.