Konektivitas Udara: Magnet Pertumbuhan Bisnis & Investasi di Indonesia
- Penerbangan langsung secara signifikan meningkatkan jumlah anak perusahaan multinasional.
- Bandara dengan koneksi yang lebih baik secara strategis menarik investasi dan mempercepat pertumbuhan bisnis.
- Sektor industri berpengetahuan tinggi adalah yang paling diuntungkan dari konektivitas udara yang kuat.
- Konektivitas bukan hanya tentang jumlah kota yang terhubung, tetapi juga kualitas dan strategisnya jaringan tersebut.
- Meskipun ada kemajuan teknologi telekonferensi, interaksi tatap muka melalui konektivitas udara tetap krusial untuk membangun kepercayaan bisnis.
Meningkatkan Pertumbuhan Bisnis Melalui Konektivitas Udara yang Optimal
Menunggu di bandara untuk penerbangan lanjutan memang seringkali membosankan, namun siapa sangka bahwa hal tersebut juga berdampak buruk bagi dunia bisnis? Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari MIT menunjukkan bagaimana jaringan koneksi penerbangan yang kuat menjadi faktor krusial bagi pertumbuhan ekonomi dan ekspansi perusahaan multinasional. Penemuan ini tentunya sangat relevan bagi Indonesia yang terus berupaya menarik investasi asing dan meningkatkan daya saing global.
Studi ini mengamati pola perjalanan udara dan pembentukan perusahaan multinasional selama 30 tahun, dari tahun 1993 hingga 2023. Hasilnya menyoroti betapa pentingnya jaringan penerbangan yang solid dalam menarik investasi. Perusahaan multinasional ternyata cenderung mendirikan anak perusahaan di kota-kota yang dapat mereka jangkau dengan penerbangan langsung. Tren ini bahkan lebih menonjol di industri berbasis pengetahuan, di mana interaksi tatap muka memiliki nilai strategis yang lebih tinggi.
Dampak Jaringan Penerbangan Terhadap Ekspansi Perusahaan
Para peneliti menganalisis data dari 142 negara dan menyimpulkan bahwa kota-kota yang hanya dapat dijangkau dengan satu kali transit memiliki anak perusahaan multinasional 20 persen lebih sedikit dibandingkan kota dengan penerbangan langsung. Angka ini melonjak menjadi 34 persen lebih sedikit jika diperlukan dua kali transit. Secara tahunan, ini berarti masing-masing ada 1,8 persen dan 3,0 persen lebih sedikit perusahaan baru yang terbentuk. Bayangkan potensi pertumbuhan yang hilang akibat kurangnya konektivitas langsung ini, terutama bagi kota-kota di Indonesia yang sedang berkembang.
Ambra Amico, seorang peneliti MIT dan salah satu penulis studi ini, menjelaskan, "Apa yang kami temukan adalah betapa pentingnya bagi sebuah kota untuk terintegrasi dalam jaringan transportasi udara global. Dan kami juga menyoroti pentingnya hal ini untuk sektor bisnis yang padat pengetahuan." Senada dengan Amico, Profesor Siqi Zheng, rekan penulis lainnya, menambahkan, "Kami menemukan hasil empiris yang sangat kuat tentang hubungan antara perusahaan induk dan anak perusahaan, serta betapa pentingnya konektivitas. Peran penting konektivitas dalam memfasilitasi interaksi tatap muka, membangun kepercayaan, dan mengurangi asimetri informasi antara perusahaan-perusahaan tersebut sangatlah krusial."
Makalah berjudul "Air Connectivity Boosts Urban Attractiveness for Global Firms" ini telah diterbitkan di jurnal bergengsi Nature Cities. Studi ini melibatkan analisis terhadap 7,5 juta perusahaan di 800 kota dengan bandara, mencakup lebih dari 400.000 rute penerbangan internasional. Fokus utama penelitian ini adalah perusahaan multinasional dan penerbangan internasional, tidak termasuk penerbangan domestik.
Konteks untuk Indonesia: Mendorong Pusat Bisnis Regional
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi angin segar sekaligus tantangan. Dengan ribuan pulau dan kota-kota besar yang tersebar, peningkatan konektivitas udara antar kota-kota utama Indonesia dengan pusat-pusat bisnis global adalah kunci. Jakarta, Surabaya, Bali, Medan, dan Makassar, misalnya, bisa menjadi lebih menarik bagi investasi multinasional jika mereka memiliki lebih banyak penerbangan langsung ke dan dari kota-kota penting di dunia. Ini bukan hanya tentang membangun bandara baru, tetapi juga mengoptimalkan rute dan frekuensi penerbangan yang ada untuk menciptakan jaringan yang lebih efisien.
Data yang digunakan dalam studi ini berasal dari International Civil Aviation Organization untuk data penerbangan, dan database Orbis dari Moody’s untuk data perusahaan. Database Orbis, yang menyimpan informasi lebih dari 469 juta perusahaan global, memungkinkan peneliti melacak hubungan kepemilikan antar perusahaan. Studi ini mempertimbangkan perusahaan yang berlokasi dalam radius 60 kilometer dari bandara dan memperhitungkan faktor-faktor lain yang memengaruhi lokasi perusahaan baru, termasuk ukuran kota.
Signifikansi Industri Berpengetahuan Tinggi
Ketika menganalisis jenis industri, peneliti mengamati bahwa konektivitas udara memiliki dampak yang jauh lebih besar pada industri berpengetahuan tinggi, seperti keuangan, konsultan, atau teknologi informasi. Dalam sektor-sektor ini, interaksi tatap muka seringkali dianggap lebih vital. Misalnya, sebuah perusahaan konsultan global mungkin ingin auditornya dapat menjangkau anak perusahaan dengan mudah untuk melakukan pemeriksaan, sehingga mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi.
"Kami terpesona oleh heterogenitas antar industri," kata Wen-Chi Liao, salah satu penulis studi. "Hasilnya intuitif, tetapi kami terkejut bahwa polanya begitu konsisten. Jika sifat industri membutuhkan interaksi tatap muka, konektivitas udara lebih penting." Sebaliknya, untuk manufaktur, ia mencatat, infrastruktur jalan dan pengiriman laut akan lebih relevan. Ini berarti pemerintah Indonesia dan pemangku kepentingan perlu mempertimbangkan jenis industri yang ingin mereka tarik saat merencanakan pengembangan infrastruktur transportasi udara.
Mengukur dan Memanfaatkan Konektivitas
Ada berbagai cara untuk mendefinisikan seberapa terhubung sebuah kota dalam jaringan transportasi udara global. Salah satu ukuran yang disebut "degree centrality" dalam makalah ini adalah jumlah tempat lain yang terhubung langsung dengan sebuah kota melalui penerbangan. Selama periode 10 tahun, peningkatan 10 persen dalam "degree centrality" sebuah kota menghasilkan peningkatan 4,3 persen dalam jumlah anak perusahaan yang berlokasi di sana.
Namun, jenis konektivitas lain memiliki korelasi yang lebih kuat dengan pertumbuhan anak perusahaan. Ini bukan hanya tentang berapa banyak kota yang terhubung langsung dengan suatu tempat, tetapi juga berapa banyak koneksi langsung yang dimiliki kota-kota yang terhubung tersebut. Ini ternyata menjadi prediktor terkuat pertumbuhan anak perusahaan. "Yang penting bukan hanya berapa banyak kota tetangga [yang terhubung langsung] yang Anda miliki," kata Fabio Duarte, rekan penulis lainnya. "Penting juga untuk memilih secara strategis dengan siapa Anda terhubung. Jika Anda memberi tahu saya dengan siapa Anda terhubung, saya akan memberi tahu Anda seberapa sukses kota Anda nantinya." Ini menunjukkan bahwa strategi pengembangan rute penerbangan harus cerdas, tidak hanya menambah jumlah, tetapi juga meningkatkan kualitas dan relevansi jaringan.
Ketahanan Interaksi Tatap Muka di Era Digital
Yang menarik, hubungan antara penerbangan langsung dan pola pertumbuhan perusahaan multinasional tetap berlaku sepanjang periode studi 30 tahun, meskipun ada peningkatan telekonferensi, pandemi Covid-19, pergeseran pertumbuhan global, dan faktor-faktor lainnya. Ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi memungkinkan komunikasi virtual, kebutuhan akan interaksi tatap muka untuk membangun kepercayaan, negosiasi yang kompleks, dan pemahaman budaya tetap tak tergantikan.
"Ada konsistensi sepanjang periode 30 tahun, yang tidak bisa diremehkan," kata Amico. "Kita membutuhkan interaksi tatap muka 30 tahun lalu, 20 tahun lalu, dan 10 tahun lalu, dan kita membutuhkannya sekarang, terlepas dari semua perubahan besar yang telah kita lihat." Profesor Zheng menambahkan, "Ironisnya, saya pikir bahkan dengan gesekan perdagangan dan geopolitik, semakin penting untuk memiliki interaksi tatap muka untuk membangun kepercayaan dalam perdagangan dan bisnis global. Anda masih perlu mencapai tempat yang sebenarnya dan melihat mitra bisnis Anda, jadi konektivitas udara benar-benar memengaruhi bagaimana bisnis global mengatasi ketidakpastian global."
Kesimpulan: Investasi pada Konektivitas Udara adalah Investasi Masa Depan
Studi ini memberikan bukti kuat bahwa konektivitas udara adalah faktor penentu dalam menarik investasi asing dan mendorong pertumbuhan perusahaan multinasional. Bagi Indonesia, ini berarti investasi pada infrastruktur bandara, optimalisasi rute penerbangan, dan kemudahan akses ke pusat-pusat bisnis global bukanlah sekadar fasilitas, melainkan strategi ekonomi yang vital. Dengan memahami dan menerapkan temuan ini, kota-kota di Indonesia dapat menjadi magnet yang lebih kuat bagi perusahaan global, mempercepat pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan lebih banyak peluang kerja. Konektivitas udara yang cerdas adalah jembatan menuju kemakmuran ekonomi yang berkelanjutan di era globalisasi.