Menjelajahi Kecerdasan Manusia dan AI: Komitmen Abadi MIT SQI
Poin-Poin Utama:
- MIT Siegel Family Quest for Intelligence (SQI) adalah unit penelitian di MIT Schwarzman College of Computing yang berdedikasi memahami kecerdasan melalui gabungan inquiry ilmiah dan rekayasa ketat.
- Tujuan utama SQI adalah memahami bagaimana otak manusia menghasilkan kecerdasan dan bagaimana hal itu dapat direplikasi dalam sistem buatan (AI) untuk memecahkan masalah dunia nyata.
- Unit ini baru saja berganti nama berkat sumbangan besar dari Siegel Family Endowment, yang didirikan oleh David Siegel, seorang ilmuwan komputer dan filantropis.
- SQI menekankan kolaborasi interdisipliner, melibatkan para peneliti dari berbagai bidang seperti sains, teknik, dan humaniora, serta berkolaborasi secara global.
- Penelitian SQI tidak hanya berfokus pada pengembangan AI, tetapi juga pada pemahaman dasar kecerdasan manusia yang dapat membawa manfaat signifikan bagi pembelajaran, kesehatan, dan pengembangan AI yang lebih baik di masa depan.
Memahami Kecerdasan: Pendekatan Unik MIT SQI
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) global, Massachusetts Institute of Technology (MIT) melalui unit penelitiannya, Siegel Family Quest for Intelligence (SQI), terus menunjukkan komitmen kuat dalam menggali pemahaman mendalam tentang kecerdasan. SQI, yang merupakan bagian dari MIT Schwarzman College of Computing, berhasil menyatukan para peneliti dari berbagai disiplin ilmu di MIT. Mereka berkolaborasi, memadukan keahlian unik untuk menyingkap misteri kecerdasan melalui penyelidikan ilmiah yang ketat dan rekayasa inovatif. Pendekatan ini mencakup upaya kolaboratif yang melintasi batas-batas sains, teknik, humaniora, dan banyak lagi, menciptakan lingkungan penelitian yang holistik.
Misi utama SQI sangat ambisius: untuk memahami bagaimana otak menghasilkan kecerdasan dan bagaimana prinsip-prinsip tersebut dapat direplikasi dalam sistem buatan. Tujuannya bukan hanya untuk menciptakan AI yang lebih canggih, melainkan untuk mengatasi permasalahan dunia nyata yang masih di luar jangkauan kemampuan teknologi AI saat ini. Bayangkan potensi dampaknya di Indonesia, di mana tantangan seperti pendidikan, kesehatan, dan pengelolaan sumber daya dapat terbantu oleh sistem AI yang lebih cerdas dan memahami konteks manusia secara lebih baik.
Leslie Pack Kaelbling, Direktur Penelitian SQI dan Panasonic Professor di Departemen Teknik Elektro dan Ilmu Komputer MIT, menegaskan, “Di SQI, kami mempelajari kecerdasan secara ilmiah dan generik. Kami berharap dengan mempelajari neurosains dan perilaku pada manusia dan hewan, serta apa yang dapat kami bangun sebagai artefak rekayasa cerdas, kami akan dapat memahami prinsip-prinsip dasar yang mendasari kecerdasan.” Senada dengan itu, Jim DiCarlo, Direktur SQI dan Peter de Florez Professor of Neuroscience di Departemen Ilmu Otak dan Kognitif MIT, menambahkan, “Kami di SQI percaya bahwa memahami kecerdasan manusia adalah salah satu pertanyaan terbuka terbesar dalam sains—sejajar dengan asal mula alam semesta dan tempat kita di dalamnya, serta asal mula kehidupan. Pertanyaan tentang kecerdasan manusia memiliki dua bagian: bagaimana ia bekerja, dan dari mana ia berasal. Jika kita memahami itu, kita akan melihat imbalan yang jauh melampaui imajinasi kita saat ini.” Pernyataan ini menunjukkan betapa fundamental dan visionernya penelitian yang dilakukan di SQI.
Dedikasi David Siegel dan Peran Siegel Family Endowment
Komitmen panjang MIT terhadap eksplorasi kecerdasan diperkuat dengan dukungan signifikan dari Siegel Family Endowment (SFE). Sebagai bentuk pengakuan atas sumbangan besar dari lembaga tersebut, MIT Quest for Intelligence baru-baru ini berganti nama menjadi The MIT Siegel Family Quest for Intelligence. Donasi ini tidak hanya menjadi wujud apresiasi, tetapi juga katalisator penting yang memungkinkan pertumbuhan lebih lanjut dalam penelitian dan aktivitas SQI, membuka peluang baru untuk penemuan-penemuan transformatif.
Siegel Family Endowment, yang didirikan pada tahun 2011 oleh David Siegel SM ’86, PhD ’91, berfokus pada dukungan organisasi yang beroperasi di persimpangan pembelajaran, tenaga kerja, dan infrastruktur. SFE mendanai entitas yang berupaya mengatasi tantangan paling krusial dalam masyarakat, sekaligus mendukung para pemimpin sipil dan komunitas yang inovatif, wirausahawan sosial, peneliti, dan pihak lain yang mendorong kemajuan. David Siegel sendiri adalah sosok multi-talenta: seorang ilmuwan komputer, pengusaha, dan filantropis. Pengalamannya di MIT's Artificial Intelligence Lab, di mana ia mengerjakan robotika, memberinya fondasi kuat dalam bidang AI. Kemudian, ia turut mendirikan Two Sigma, sebuah perusahaan yang mengubah industri jasa keuangan melalui inovasi teknologi, AI, dan ilmu data. Kisah inspiratif David Siegel ini menunjukkan bagaimana visi dan dedikasi pribadi dapat membentuk arah penelitian global yang penting.
Siegel menjelaskan pandangan fundamentalnya, “Otak manusia mungkin adalah sistem fisik paling kompleks di alam semesta, namun kebanyakan orang belum menunjukkan banyak minat pada cara kerjanya. Orang menganggap akal sehat itu biasa, namun sangat ingin tahu tentang misteri ilmiah lainnya, seperti asal mula alam semesta. Ketertarikan saya pada otak dan persimpangannya dengan kecerdasan buatan berasal dari sini. Saya tidak peduli apakah ada aplikasi komersial untuk pencarian ini; sebaliknya, kita harus mengejar penelitian seperti yang dilakukan di MIT Siegel Family Quest for Intelligence untuk memajukan pemahaman kita tentang diri kita sendiri. Saat kita mengungkap lebih banyak tentang kecerdasan manusia, saya berharap kita akan meletakkan dasar tidak hanya untuk memajukan kecerdasan buatan tetapi juga untuk memperluas pemikiran kita sendiri.” Filosofi ini menekankan pentingnya ilmu pengetahuan murni yang didorong oleh rasa ingin tahu, di luar motif ekonomi semata.
Pondasi Kolaborasi Interdisipliner
David Siegel telah lama menjadi pendukung aktif Center for Brains, Minds, and Machines (CBMM), sebuah kolaborasi penelitian interdisipliner yang didanai oleh National Science Foundation. Ia juga merupakan salah satu donor awal MIT Quest for Intelligence, membantu meletakkan fondasi bagi penelitian penting yang sedang berlangsung saat ini. Pada awal 2024, ia mendirikan Open Athena, sebuah organisasi nirlaba yang menjembatani kesenjangan antara penelitian akademis dan AI mutakhir. Open Athena membekali universitas dengan talenta AI dan rekayasa data elit untuk mempercepat penemuan terobosan dalam skala besar. Siegel juga aktif di berbagai komite dan dewan, termasuk MIT Corporation Executive Committee, menunjukkan komitmennya yang luas terhadap pendidikan dan inovasi.
Presiden MIT Sally Kornbluth menegaskan peran krusial Siegel, “Dari semua donor dan pendukung yang generositasnya mendorong Quest for Intelligence, tidak ada yang lebih penting sejak awal daripada David Siegel. Tanpa komitmen jangka panjangnya terhadap CBMM dan dukungannya untuk Quest, komunitas ini mungkin tidak akan pernah terbentuk.” Ia melanjutkan, “Didorong oleh para donatur yang dermawan—terutama hadiah transformatif David Siegel—SQI siap untuk mengambil peran yang lebih penting.” Dukungan ini sangat vital, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia yang dapat mengambil inspirasi dari model kolaborasi ini untuk memajukan riset dan pengembangan di bidang AI dan neurosains.
Kolaborasi Global dan Dampak Inovatif
SQI tidak hanya berfokus pada penelitian internal; para ilmuwan dan insinyur SQI secara aktif mempresentasikan hasil kerja mereka, mempublikasikan makalah, dan mengembangkan alat serta teknologi baru yang digunakan di berbagai institusi penelitian di seluruh dunia. Mereka berinteraksi dengan kolega di berbagai disiplin ilmu di seluruh Institut serta di universitas dan institusi di seluruh dunia, menciptakan jaringan pengetahuan yang luas. Jim DiCarlo menjelaskan, “Kami adalah bagian dari Schwarzman College of Computing, berada di persimpangan antara orang-orang yang tertarik pada biologi dan berbagai bentuk kecerdasan dengan orang-orang yang tertarik pada AI. Kami bekerja sama dengan mitra di universitas lain, di organisasi nirlaba, dan di industri—kami tidak bisa melakukannya sendiri.” Kolaborasi semacam ini esensial untuk memecahkan masalah kompleks yang dihadapi umat manusia.
DiCarlo menambahkan penekanan penting, “Pada dasarnya, kami bukan upaya AI. Kami adalah upaya kecerdasan manusia yang menggunakan alat-alat rekayasa.” Filosofi ini memberikan SQI perspektif unik yang menghasilkan wawasan sangat berguna untuk pembelajaran dan kesehatan manusia, serta alat yang sangat bermanfaat untuk AI—termasuk AI yang akan bekerja jauh lebih baik di dunia yang berpusat pada manusia. Implikasi bagi Indonesia sangat besar, di mana pengembangan AI yang memahami budaya dan konteks lokal dapat secara signifikan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, misalnya melalui sistem pendidikan yang adaptif atau solusi kesehatan yang personal.
Misi Baru dan Arah Penelitian Masa Depan
Penelitian di SQI terus berkembang. Para peneliti utama misi mengintegrasikan upaya mereka di berbagai bidang minat, meningkatkan dampak mereka di lapangan. Dalam beberapa bulan mendatang, organisasi ini berencana untuk meluncurkan Misi Kecerdasan Sosial (Social Intelligence Mission) yang baru. Ini menunjukkan bahwa SQI tidak hanya terpaku pada aspek teknis kecerdasan, tetapi juga pada dimensi sosial dan interaksi manusia, yang merupakan komponen krusial dalam memahami kecerdasan secara utuh.
Nick Roy, Direktur Rekayasa Sistem SQI dan Profesor Aeronautika dan Astronautika di MIT, menekankan pentingnya fokus pada masalah yang mencerminkan kecerdasan alami dan buatan. “Kita perlu fokus pada masalah yang mencerminkan kecerdasan alami dan buatan—memastikan bahwa kita mengevaluasi model baru pada tugas-tugas yang mencerminkan apa yang dapat dilakukan manusia dan kecerdasan alami lainnya,” ujarnya. Ia memprediksi bahwa penelitian SQI di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang tepat: “[Sementara] kita pandai memilih tugas yang menguji model komputasi kita, dan kita sangat pandai memilih tugas yang selaras dengan apa yang sudah dapat dilakukan model kita, kita perlu menjadi lebih baik dalam memilih tugas dan tolok ukur yang juga membangkitkan sesuatu tentang kecerdasan alami.” Pendekatan ini relevan bagi Indonesia dalam mengembangkan kurikulum pendidikan yang lebih baik dan inovasi teknologi yang benar-benar bermanfaat.
Pada tanggal 24 November 2025, para fakultas, staf, mahasiswa, dan pendukung berkumpul dalam acara bertajuk “The Next Horizon: Quest’s Future” untuk merayakan babak baru SQI. Acara tersebut menampilkan pembaruan penelitian, diskusi panel, dan sesi poster tentang penelitian baru dan yang sedang berkembang, dihadiri oleh David Siegel, perwakilan dari Siegel Family Endowment, dan berbagai anggota MIT Corporation. Rekaman presentasi dari acara tersebut tersedia di saluran YouTube SQI, memungkinkan akses global terhadap wawasan dan penemuan terbaru.
Dengan semangat kolaborasi dan rasa ingin tahu yang tak terbatas, seluruh komunitas SQI—termasuk para fakultas, mahasiswa, dan staf—bersemangat untuk menghadapi tantangan baru dalam upaya memahami fundamental kecerdasan. Penelitian mereka tidak hanya akan membentuk masa depan AI tetapi juga memperkaya pemahaman kita tentang diri kita sendiri dan potensi yang tak terbatas dari pikiran manusia.