Mewujudkan Kemandirian Mineral Kritis: Indonesia Lepas dari Dominasi China

Jonathan Rowntree, CEO Niron Magnetics, berbicara tentang inovasi magnet bebas rare-earth yang mendukung kemandirian industri global.

Rantai pasok global kini dihadapkan pada sebuah dilema yang kian mendesak: ketergantungan terhadap mineral kritis, khususnya kelompok rare-earth elements (REE), yang mayoritas pasokannya dikendalikan oleh China. Dominasi ini tidak hanya menciptakan kerentanan ekonomi tetapi juga geopolitik, mengingat REE esensial bagi berbagai teknologi mutakhir, mulai dari elektronik konsumen dan kendaraan listrik hingga peralatan militer canggih seperti jet tempur F-35, satelit, dan komputasi kuantum. Kondisi ini mendorong berbagai negara, termasuk Indonesia yang kaya sumber daya alam, untuk mencari solusi strategis guna mengurangi ketergantungan dan membangun kemandirian.

Meskipun sering disebut "langka", mineral-mineral ini sebenarnya tersebar luas di berbagai belahan dunia, termasuk Australia, Brasil, India, Rusia, Amerika Serikat, Vietnam, dan berpotensi besar di Indonesia. Tantangan utamanya bukan pada ketersediaan, melainkan pada proses ekstraksi dan pemurnian yang rumit, mahal, serta seringkali menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan. Hal ini yang membuat banyak negara enggan berinvestasi dalam skala komersial, membuka peluang bagi China untuk mengisi kekosongan tersebut melalui skema subsidi dan kontrol produksi yang disengaja selama beberapa dekade.

Key Points

Artikel ini membahas upaya global untuk melepaskan diri dari dominasi China dalam pasokan mineral kritis dan rare-earth elements (REE). Poin-poin penting meliputi:

  • Dominasi China: China menguasai lebih dari separuh produksi dan mayoritas pemurnian REE global, memengaruhi harga dan menghambat persaingan.
  • Tantangan Ekstraksi: Meskipun REE tidak langka, proses penambangan dan pemurniannya mahal, rumit, dan berdampak lingkungan, menghambat investasi di luar China.
  • Membangun Rantai Pasok Baru: Perusahaan-perusahaan global aktif mengembangkan penambangan dan pemurnian baru, didukung kemitraan publik-swasta serta investasi swasta.
  • Kendala Perizinan: Proses perizinan yang panjang, terutama di Amerika Serikat, menjadi hambatan besar bagi pengembangan proyek-proyek mineral baru.
  • Inovasi Alternatif: Penelitian dan pengembangan magnet sintetis berbasis besi nitrida dan tetrataenite, serta metode "thrifting" untuk mengurangi penggunaan REE.
  • Daur Ulang REE: Upaya daur ulang dari limbah industri dan produk elektronik bekas menjadi salah satu strategi penting, terutama di Eropa.
  • Peran Indonesia: Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen mineral kritis dan dapat mengambil peran strategis dalam rantai pasok global.

Tantangan Dominasi China dalam Rantai Pasok Mineral Kritis

Menurut International Energy Agency, pada tahun 2030, China diperkirakan akan mengontrol 51% produksi dan 76% pemurnian REE. Bahkan, saat ini dominasinya mungkin lebih tinggi. Sebuah laporan kongres AS mengungkapkan bahwa dominasi ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi terkoordinasi pemerintah China selama puluhan tahun untuk mengendalikan mineral kritis dan memanipulasi pasar global. Strategi utamanya adalah subsidi besar-besaran untuk menjaga harga tetap rendah, sehingga menghalangi munculnya pesaing baru.

Ketergantungan ini sangat terasa di berbagai sektor. REE, termasuk unsur berat seperti disprosium, erbium, holmium, dan terbium, adalah komponen kunci dalam pembuatan magnet berperforma tinggi. Magnet ini vital untuk beragam produk modern, mulai dari ponsel pintar, laptop, kendaraan listrik, hingga turbin angin dan sistem radar pertahanan. Bayangkan jika Indonesia ingin mempercepat transisi energi dengan turbin angin atau membangun industri kendaraan listrik yang kuat; ketersediaan REE yang stabil dan terjangkau akan menjadi krusial.

Perang dagang yang pernah digencarkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump, yang sebagian tujuannya adalah mengurangi kontrol China atas pasokan REE, menunjukkan dampak yang minim. Para ekonom sepakat bahwa upaya tersebut belum mampu menggoyahkan dominasi Beijing secara signifikan. Hal ini menggarisbawahi bahwa masalahnya jauh lebih kompleks daripada sekadar tarif perdagangan; ini adalah persoalan fundamental terkait struktur pasar, investasi jangka panjang, dan kapasitas teknologi.

Membangun Rantai Pasok Mineral Kritis yang Baru

Melihat urgensi ini, berbagai perusahaan dan peneliti di negara-negara Barat secara aktif mengembangkan opsi baru. Mereka meningkatkan upaya untuk menemukan, mengekstraksi, dan memurnikan cadangan REE serta mineral kritis lainnya. Tidak hanya itu, pengembangan metode untuk mengurangi ketergantungan atau bahkan mengganti REE sepenuhnya juga menjadi fokus utama. Bagi Indonesia, langkah serupa bisa menjadi strategi untuk mengoptimalkan kekayaan mineralnya dan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok luar.

Eksplorasi dan Penambangan Baru

Sejumlah perusahaan pertambangan dan pengolahan baru kini bergerak maju dalam upaya ekstraksi, pemisahan, dan pemurnian REE. Nama-nama seperti Aclara Resources, Lithium Americas, MP Materials, dan Ramaco Resources adalah beberapa contohnya. Perusahaan-perusahaan ini tidak hanya fokus pada penemuan deposit baru, tetapi juga pada inovasi proses yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Di Indonesia, dengan cadangan mineral yang melimpah, khususnya nikel yang sering kali berasosiasi dengan REE, pengembangan serupa dapat membuka peluang besar.

Dukungan Pemerintah dan Kemitraan

Mengingat tingginya biaya investasi untuk mengekstraksi, memisahkan, dan memetalisasi REE, dukungan pemerintah seringkali menjadi keharusan, biasanya melalui kemitraan publik-swasta (KPS) dalam bentuk pinjaman dan ekuitas. François Motte, CFO Aclara, mengungkapkan bahwa biaya modal rata-rata perusahaan sebesar 10% hingga 12% merupakan kerugian signifikan dibandingkan dengan China. "Sampai pasar di luar China terbentuk, kami harus bergantung pada pembiayaan pemerintah," ujarnya. Aclara, misalnya, menerima hibah hingga $5 juta untuk proyeknya di Brasil dari US International Development Finance Corporation.

Contoh lain adalah MP Materials yang berbasis di Las Vegas. Mereka menandatangani perjanjian KPS dengan Departemen Pertahanan AS pada Juli 2025 di bawah Defense Production Act. Perjanjian ini mencakup pinjaman $150 juta, ekuitas $400 juta, dan dukungan harga untuk produksi mereka di situs Mountain Pass, California—situs produksi REE terbesar di Amerika Utara. Kemitraan ini menetapkan harga dasar $110 per kilogram untuk neodymium-praseodymium selama 10 tahun, yang menurut Matthew Sloustcher, Wakil Presiden Eksekutif MP, menghilangkan manipulasi harga oleh China. Di Indonesia, skema serupa bisa diterapkan untuk mendorong investasi dalam industri mineral kritis.

Kemitraan dengan perusahaan swasta lainnya juga sangat membantu. General Motors, misalnya, menjalin aliansi strategis dengan MP Materials untuk membeli magnet yang dikembangkan dari bahan REE yang bersumber dari Mountain Pass, yang kemudian akan diproduksi untuk motor listrik di fasilitas baru di Texas. Kolaborasi semacam ini menunjukkan bagaimana sektor swasta dapat berperan aktif dalam membangun rantai pasok yang lebih tangguh.

Mengatasi Kendala Regulasi dan Lingkungan

Salah satu tantangan paling krusial, terutama bagi perusahaan pertambangan, adalah perizinan lokasi pengembangan, khususnya di Amerika Serikat. Proses ekstraksi dan pemurnian REE memang dikenal berbahaya bagi lingkungan. Motte dari Aclara mencatat bahwa seluruh proses untuk membawa sebuah tambang ke tahap produksi dapat memakan waktu setidaknya lima tahun di luar China, dan bahkan hingga 10 tahun di AS, sebagian besar karena persyaratan perizinan yang ketat. Ini jelas menghambat investasi swasta.

Para eksekutif yang bersaksi di hadapan Kongres AS mendesak anggota parlemen untuk meloloskan undang-undang yang mereformasi perizinan dengan memberlakukan batas waktu pada prosesnya, termasuk proses banding. Jonathan Evans, CEO Lithium Americas, mengungkapkan bahwa pengembangan deposit litium terbesar di AS di Thacker Pass, Nevada, bisa saja beroperasi 18 bulan lebih cepat jika modal swasta tidak terhambat oleh banding perizinan, yang ia sebut sebagai "penghalang nyata." Bagi Indonesia, penyederhanaan dan percepatan proses perizinan dengan tetap menjaga standar lingkungan akan sangat vital untuk menarik investasi di sektor mineral kritis.

Menariknya, Prancis mungkin menawarkan solusi untuk mengurangi hambatan ini. Perusahaan-perusahaan di sana mulai menerapkan pengalaman mereka dalam mengelola limbah nuklir untuk pemurnian dan pemrosesan REE. Carester, perusahaan rintisan REE yang berbasis di Lyon, baru-baru ini berinvestasi €216 juta (sekitar $253 juta) untuk membangun pabrik pemurnian di Lacq, Prancis. Sementara itu, raksasa kimia Belgia, Solvay, telah memperluas fasilitasnya di La Rochelle, Prancis. Inovasi ini menunjukkan bahwa dengan teknologi yang tepat, tantangan lingkungan bisa diatasi, membuka jalan bagi produksi REE yang lebih bertanggung jawab.

Inovasi dan Alternatif Pengganti: Harapan Baru?

Pengembangan alternatif sintetis untuk logam REE, seperti besi nitrida, dapat mengurangi dampak lingkungan dan ketergantungan pada China. Bahan-bahan ini tidak memerlukan logam tanah jarang. Menurut makalah putih November 2024 dari Stanford Magnets, "Magnet permanen besi nitrida adalah alternatif yang muncul untuk magnet tanah jarang tradisional, menawarkan keuntungan unik dalam hal kinerja dan keberlanjutan." Niron Magnetics, misalnya, didanai $300 juta oleh General Motors, Stellantis, dan Samsung, sedang mengembangkan alternatif sintetis magnet tanah jarang dari besi dan nitrida.

Namun, masih ada pertanyaan mengenai sifat magnetik besi nitrida. Penelitian menunjukkan bahwa magnet besi nitrida dapat kehilangan kekuatannya ketika terpapar medan magnet lain, yang umum terjadi pada aplikasi berteknologi tinggi. Laura Lewis, seorang insinyur kimia di Northeastern University di Boston, juga mempelajari alternatif potensial lain: magnet berperforma tinggi yang terbuat dari mineral bernama tetrataenite, yang terdiri dari lapisan tipis besi dan nikel yang tersusun rapi dan ditemukan di beberapa meteorit.

Para kritikus, seperti Randall Atkins, CEO Ramaco, berpendapat bahwa mencari pengganti REE dalam magnet justru akan memperlambat pengembangan rantai pasok yang mampu bersaing dengan dominasi China. Atkins menjelaskan bahwa konsep "substitusi" seringkali memerlukan desain ulang total dan substitusi yang ada cenderung kalah jauh dalam kinerja. Ia bahkan menyebut "mitos substitusi" sebagai ilusi berbahaya. Meski demikian, Jack Howley dari IDTechEx menyarankan bahwa pengganti sintetis tetap dapat berfungsi sebagai "lindung nilai" atau alternatif pelengkap.

Nicola Morley, seorang profesor fisika material di University of Sheffield, menambahkan bahwa meskipun magnet besi nitrida hanya dapat digunakan dalam aplikasi yang membutuhkan kinerja lebih rendah, hal itu tetap akan membantu mengurangi tekanan pada rantai pasok REE. Motte juga memiliki pandangan yang lebih bernuansa, mengakui bahwa "satu solusi tidak cukup" dan magnet besi nitrida akan memiliki "tempatnya sendiri." Ini menunjukkan bahwa pendekatan multi-strategis mungkin menjadi yang terbaik.

Strategi "Thrifting" dan Daur Ulang

Selain alternatif material, ada juga upaya untuk mengurangi jumlah REE yang dibutuhkan dalam magnet berperforma tinggi melalui proses yang disebut "green boundary diffusion" atau lebih informalnya "thrifting." Perusahaan seperti ABB dan Noveon Magnetics sedang memelopori metode ini. Seperti yang dijelaskan oleh Howley, dengan mengkonsentrasikan REE pada permukaan atau tepi magnet, "Anda tidak memerlukan difusi lengkap." Penelitian menunjukkan bahwa teknik ini dapat mengurangi jumlah REE yang dibutuhkan dalam magnet berperforma tinggi hingga 70%, meskipun Motte mencatat bahwa magnet semacam itu saat ini masih sangat mahal.

Pasokan REE dan mineral kritis lainnya juga dapat ditingkatkan melalui daur ulang. Departemen Energi AS mengumumkan pada Desember bahwa mereka akan mengalokasikan $134 juta untuk mendanai proyek demonstrasi pemisahan REE dari bahan baku yang berasal dari drainase tambang asam, limbah tambang, atau bahan berbahaya lainnya. Daur ulang menjadi fokus utama upaya Eropa karena benua ini memiliki cadangan atau penambangan REE yang terbatas. Pabrik baru Carester di Lacq, yang akan menjadi fasilitas pemisahan skala besar pertama di Eropa, menggabungkan daur ulang dengan pemurnian. Namun, metode daur ulang saat ini masih memiliki tingkat pemulihan yang sangat rendah.

Morley dari University of Sheffield juga menyebutkan bahwa penggunaan kembali magnet permanen—dengan melepaskannya dari satu perangkat dan menggunakannya di perangkat lain—adalah pilihan yang patut dipertimbangkan. Ia mengakui bahwa pendekatan ini belum umum saat ini, tetapi ia berharap akan menjadi lebih luas dalam lima hingga 10 tahun ke depan. Di Indonesia, dengan volume limbah elektronik yang terus meningkat, potensi daur ulang REE dan penggunaan kembali magnet bekas bisa menjadi strategi ekonomi sirkular yang menjanjikan.

Masa Depan Kemandirian Mineral Kritis

Upaya global untuk melepaskan diri dari dominasi China dalam pasokan mineral kritis adalah tugas yang monumental, namun tidak mustahil. Ini memerlukan pendekatan multi-faceted yang melibatkan eksplorasi dan penambangan baru, dukungan pemerintah yang strategis, kemitraan swasta yang kuat, inovasi dalam material alternatif, efisiensi dalam penggunaan melalui "thrifting", dan pengembangan teknologi daur ulang yang lebih baik. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alam dan potensi untuk mengembangkan kapasitas pemurniannya, memiliki peran strategis dalam membangun rantai pasok mineral kritis yang lebih tangguh dan berkelanjutan secara global.

Tidak ada satu solusi tunggal yang akan menyelesaikan masalah ini sepenuhnya. Sebaliknya, sinergi dari berbagai upaya ini—mulai dari "mempercepat produksi logam-logam ini" hingga inovasi material dan praktik daur ulang—adalah kunci. Dengan kebijakan yang tepat, investasi berkelanjutan, dan kolaborasi internasional, Indonesia dapat menjadi pemain kunci dalam mewujudkan kemandirian mineral kritis global, mengurangi kerentanan rantai pasok, dan mendukung transisi menuju masa depan yang lebih hijau dan berteknologi tinggi.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org