Pasar Kripto Q4 2025: Bitcoin Anjlok & Institusi Terpecah
Key Points:
- Kuartal keempat tahun 2025 menyaksikan penurunan tak terduga di pasar kripto global, dengan total kapitalisasi pasar anjlok 25-27%.
- Bitcoin mengalami koreksi tajam dari sekitar $126.000 menjadi sekitar $80.000, meskipun volume perdagangan tetap tinggi.
- Faktor makroekonomi, termasuk data inflasi AS, memicu sentimen "risk-off" dan mendorong investor untuk melindungi modal mereka.
- Terjadi arus keluar dari ETF Bitcoin, menunjukkan kehati-hatian institusi, namun "Digital Asset Treasury" justru meningkatkan kepemilikan.
- Stablecoin terus menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan, mencapai volume transaksi $4 triliun sepanjang tahun 2025 dan menjadi tulang punggung transaksi.
- Pergeseran struktural terlihat dengan peningkatan pangsa pasar bursa terdesentralisasi (DEX) dalam perdagangan spot.
- Prospek 2026 diperkirakan lebih stabil namun perlu peningkatan adopsi institusional dan kejelasan regulasi untuk pertumbuhan signifikan.
Kuartal keempat tahun 2025, yang secara historis sering dianggap sebagai periode "terbaik" bagi pasar kripto dengan harapan reli akhir tahun, justru menyajikan kejutan yang kurang menyenangkan. Alih-alih meroket, pasar kripto global justru mengalami koreksi tajam, menghapus sekitar $1 triliun dari total kapitalisasi pasarnya. Bitcoin, mata uang kripto utama, juga tidak luput dari dampak ini, tergelincir dari puncaknya di bulan Oktober ke kisaran harga rendah $80.000-an. Fenomena ini, seperti diungkapkan dalam Laporan Pasar Kripto Q4 2025 yang diterbitkan 99Bitcoins bekerja sama dengan Crypto.com, mencerminkan "kuartal distribusi" yang didominasi oleh sentimen penghindaran risiko, volume perdagangan tinggi, harga jatuh, dan posisi yang hati-hati dari investor institusional di seluruh ETF spot dan derivatif.
Laporan tersebut menyoroti bahwa pada kuartal ini, "investor lebih fokus pada pelestarian modal mereka daripada mencoba untuk memperdagangkan pasar." Diperkirakan, total kapitalisasi pasar kripto global mengalami penurunan signifikan sebesar 25-27% dari kuartal ke kuartal, menjadikannya salah satu penurunan persentase terbesar sepanjang tahun 2025. Kondisi ini tentunya memicu kekhawatiran di kalangan investor, baik ritel maupun institusional, termasuk di Indonesia yang minat terhadap aset kripto terus meningkat.
Faktor Pendorong Penurunan Harga Bitcoin di Q4 2025
Penurunan Bitcoin di Q4 2025 terjadi setelah sempat mencapai titik tertinggi sepanjang masa di bulan Oktober tahun yang sama. Dari sekitar $126.000, harga Bitcoin dengan cepat merosot ke rentang $80.000-an. Yang menarik adalah, laporan tersebut mengindikasikan bahwa penurunan ini disertai dengan volume perdagangan yang tinggi. Dalam analisis pasar, volume tinggi di tengah penurunan harga sering kali menjadi sinyal fase "distribusi" akhir siklus, di mana pemegang aset besar mulai menjual, daripada sekadar pergeseran harga yang tenang.
Selain itu, sensitivitas terhadap faktor makroekonomi sangat mendominasi di akhir Q4. Aksi harga sangat reaktif terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat dan selera risiko yang lebih luas di pasar keuangan global. Ini secara efektif menjaga para pedagang dan investor tetap dalam posisi defensif. Di Indonesia, sentimen global semacam ini seringkali tercermin dalam pergerakan pasar aset digital lokal, karena investor cenderung mengikuti tren pasar global.
Laporan tersebut lebih lanjut menjelaskan, "Meskipun ETF BTC sebelumnya menarik arus masuk institusional yang kuat di awal tahun, Q4 menyaksikan arus keluar ETF yang dipercepat, dan open interest futures tetap tinggi bahkan saat harga turun." Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan di kalangan institusi; sementara sebagian besar menunjukkan kehati-hatian, beberapa "Digital Asset Treasury" (perusahaan yang memegang aset digital sebagai bagian dari neraca mereka) justru memperluas kepemilikan mereka, dengan Bitcoin membentuk mayoritas dari nilai aset bersih (NAV) kripto yang mereka laporkan.
Pergeseran Struktural di Balik Volatilitas Pasar Kripto
Meskipun harga aset kripto secara keseluruhan mengalami tekanan, terdapat beberapa pergeseran fundamental yang patut dicermati, yang mungkin menjadi fondasi bagi evolusi pasar di masa depan.
Peran Stablecoin yang Kian Menguat
Di tengah gejolak pasar, stablecoin terus memperkuat posisinya sebagai tulang punggung transaksional ekosistem kripto. Menurut laporan, stablecoin menyumbang 30% dari total volume transaksi on-chain, melampaui $4 triliun dalam volume tahun berjalan di tahun 2025. Lonjakan penggunaan stablecoin ini secara langsung mendorong pertumbuhan pinjaman yang dijaminkan dengan kripto, yang mencapai rekor tertinggi baru pada akhir Q3 2025, melampaui puncak sebelumnya yang ditetapkan pada Q4 2021. Ini menunjukkan bahwa meskipun spekulasi mereda, utilitas dasar kripto dalam bentuk stablecoin terus berkembang pesat, menyediakan likuiditas dan efisiensi bagi berbagai aktivitas keuangan di ruang digital, termasuk yang mungkin dimanfaatkan oleh pelaku pasar di Indonesia untuk transaksi dan lindung nilai.
Dominasi DEX dalam Perdagangan Spot
Pergeseran lain yang signifikan adalah terus berlanjutnya migrasi pangsa pasar struktural dari bursa terpusat (CEX) ke bursa terdesentralisasi (DEX). Rasio perdagangan spot DEX-ke-CEX meningkat menuju rentang 20% lebih rendah pada akhir tahun 2025. Ini mengindikasikan bahwa semakin banyak investor dan pedagang yang mencari platform yang menawarkan desentralisasi lebih tinggi, transparansi, dan kontrol atas aset mereka, meskipun mungkin dengan kompromi dalam likuiditas atau kemudahan penggunaan dibandingkan CEX.
Prospek Pasar Kripto di Tahun 2026: Antara Optimisme dan Kehati-hatian
Dengan berakhirnya tahun 2025 yang penuh tantangan, pertanyaan besar pun muncul: apa yang menanti pasar kripto di tahun 2026? Laporan tersebut menyimpulkan bahwa skenario dasar untuk tahun 2026 bukanlah pertumbuhan yang "lurus ke atas." Sebaliknya, pasar kemungkinan akan melihat pertumbuhan yang lebih stabil jika adopsi institusional dan kejelasan regulasi semakin membaik. Ini adalah poin krusial, terutama bagi negara-negara seperti Indonesia yang sedang giat mengembangkan kerangka regulasi untuk aset kripto. Kejelasan regulasi dapat menarik lebih banyak investasi dan partisipasi yang lebih luas.
Pada saat ini, pergerakan Bitcoin di atas $95.000 tampaknya seperti hadiah. Jika memang terjadi, momentum yang dihasilkan dapat dengan mudah mendorong harga BTC USD jauh melampaui angka psikologis $100.000. Mengingat korelasi positif antara Bitcoin dan beberapa altcoin, diharapkan beberapa token berkualitas akan melonjak dalam prosesnya. Inilah yang beberapa analis perkirakan akan terjadi dalam beberapa minggu atau hari ke depan, menunjukkan optimisme jangka pendek di balik kehati-hatian jangka panjang.
Secara keseluruhan, meskipun Q4 2025 menjadi periode yang sulit bagi pasar kripto, ia juga menyoroti ketahanan fundamental stablecoin dan pergeseran menuju desentralisasi. Ini adalah pelajaran berharga bagi investor di Indonesia dan seluruh dunia, mengingatkan bahwa pasar kripto adalah ranah yang dinamis, penuh risiko, tetapi juga potensi inovasi yang tidak terbatas.