Revolusi Ethereum: Mengapa Analis Optimis di Tengah Volatilitas Pasar?
Pasar cryptocurrency selalu penuh dinamika, dan Ethereum (ETH), aset digital terbesar kedua di dunia, tidak terkecuali. Meskipun baru-baru ini mengalami tekanan jual dan berjuang untuk mempertahankan posisinya di bawah level psikologis $3.000, banyak analis masih melihat adanya potensi revolusi yang sedang terbentuk. Penurunan harga saat ini bisa jadi merupakan bagian dari siklus pasar yang normal, namun di balik layar, fondasi fundamental Ethereum justru semakin kokoh dengan berbagai dukungan struktural yang kuat.
Key Points
- Ethereum menghadapi tekanan jual, namun didukung oleh fundamental dan perkembangan jaringan yang kuat.
- Penolakan harga di zona $3.400–$3.500 memicu koreksi sekitar 16%, meski akumulasi investor institusional terus berlanjut.
- Penarikan modal bersih dari ETF spot ETH sebesar lebih dari $600 juta menjadi salah satu pemicu penurunan jangka pendek.
- Laporan Grayscale memprediksi kenaikan valuasi signifikan untuk Ethereum di tahun 2026, didorong oleh kejelasan regulasi.
- Secara teknikal, ETH diperdagangkan dalam rentang konsolidasi antara $2.600 dan $3.350, menyarankan periode menunggu bagi investor.
Performa Ethereum di Tengah Gejolak Pasar Global
Ethereum (ETH) saat ini diperdagangkan di sekitar angka $2.800, menunjukkan penurunan lebih dari 6% dalam 24 jam terakhir dan berisiko menutup bulan kelima berturut-turut dalam zona merah. Kondisi ini mungkin memicu kekhawatiran bagi sebagian investor, terutama di Indonesia yang memiliki minat tinggi terhadap aset digital. Namun, penurunan ini sebenarnya terjadi bersamaan dengan beberapa "structural tailwinds" terkuat yang pernah disaksikan jaringan Ethereum dalam beberapa tahun terakhir. Ini termasuk peningkatan adopsi aplikasi terdesentralisasi (DApps), pertumbuhan ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi), dan antisipasi peningkatan jaringan yang signifikan, seperti implementasi proto-danksharding atau Dencun yang bertujuan meningkatkan skalabilitas dan efisiensi.
Penurunan ini mengikuti kegagalan penembusan di atas zona $3.400–$3.500 pada akhir Januari, yang kemudian berbalik menjadi koreksi sekitar 16%. Ironisnya, koreksi ini terjadi meskipun para pemegang besar atau "whales" telah menambahkan lebih dari 1 juta ETH ke saldo mereka. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan jual dari pasar, minat dan kepercayaan jangka panjang dari investor besar terhadap Ethereum tetap tinggi. Fenomena ini seringkali menjadi indikator bahwa fundamental aset tersebut masih solid, dan penurunan harga mungkin lebih bersifat korektif daripada menunjukkan masalah struktural yang mendalam.
Faktor Penentu Harga ETH: Data On-Chain dan Arus ETF
Data on-chain, yang melacak aktivitas transaksi di jaringan blockchain, mengungkapkan bahwa area $3.400–$3.500 merupakan zona dengan pasokan "break-even" yang mencapai lebih dari $4 miliar. Artinya, banyak investor yang membeli ETH di level tersebut kini berada dalam posisi impas atau sedikit rugi, menciptakan tekanan jual saat harga mendekati kembali level tersebut. Selain itu, arus keluar bersih lebih dari $600 juta dari Exchange Traded Funds (ETF) spot ETH telah mengubah sentimen investor institusional dari dukungan menjadi hambatan. Ini mengindikasikan bahwa sebagian investor institusional mungkin melakukan realisasi keuntungan atau mengalihkan modal ke aset lain, meskipun ETF spot ETH sendiri telah berhasil mengumpulkan hampir 12 juta ETH, atau sekitar 10% dari total pasokan, sepanjang tahun 2025.
Meskipun kinerja harga Ethereum mungkin kurang memuaskan di tahun 2025, laporan riset dari Grayscale menyoroti potensi besar di tahun 2026. Menurut Grayscale, tahun tersebut kemungkinan akan membawa "kenaikan valuasi" karena kejelasan regulasi yang semakin mendalam akan memperkuat hubungan antara keuangan tradisional dan blockchain publik. Ethereum dipandang sebagai "aset moneter alternatif" inti dalam ekosistem ini. Pandangan ini didukung oleh beberapa analis makro yang menunjuk pada pola likuiditas global berulang yang sebelumnya mendahului reli ETH sebesar 226% di tahun 2021, dan pola serupa tampaknya sedang terbentuk kembali. Ini menunjukkan adanya siklus ekonomi makro yang dapat memberikan dorongan signifikan bagi aset seperti Ethereum.
Analisis Teknikal: Mengapa ETH Terjebak dalam Rentang Konsolidasi?
Secara teknikal, Ethereum terus bergerak dalam rentang konsolidasi yang luas, dengan resistensi yang jelas di dekat $3.350 dan dukungan kuat di sekitar $2.600. Analisis oleh Sjuul, seorang analis kripto terkemuka, menunjukkan bahwa pergerakan harga ini mencerminkan pasar yang bergerak sideway, ditandai dengan penolakan berulang di puncak rentang dan sinyal "bullish deviation" di dekat level terendah. Struktur ini tidak menunjukkan tren yang pasti, melainkan pergerakan yang terkonsolidasi di antara batas-batas yang jelas.
$ETH remains in this seemingly endless range.
There's not much to do in the middle.
Either wait for a proper breakout above $3350 or for a dip to the range low.
Remember, money is made in the waiting! pic.twitter.com/gJy0rZlrHY
— Sjuul | AltCryptoGems (@AltCryptoGems) January 29, 2026
Sjuul menyarankan bahwa "uang dihasilkan dalam menunggu." Ini berarti investor disarankan untuk bersabar dan menunggu penembusan yang jelas di atas $3.350 sebagai konfirmasi kekuatan harga, atau menunggu penurunan menuju $2.600 yang mungkin menawarkan zona reaksi berikutnya untuk akumulasi. Pendekatan ini menekankan pentingnya strategi dan kesabaran dalam menghadapi pasar yang terkonsolidasi.
Pandangan Analis Lain: Tekanan Jual Jangka Pendek
Analis kripto lain, Crypto Tony, juga mengemukakan pandangannya terhadap Ethereum. Menurut analisisnya, Ethereum terus diperdagangkan di bawah tekanan karena aksi harga jangka pendek tetap tertahan di bawah zona resistensi kunci. Pada grafik 15 menit, ETH menunjukkan penolakan di area $2.850 dan gagal merebut kembali titik tengah rentang, menjaga struktur harga cenderung lebih rendah.
This is a range I am looking for on Ethereum. Rejections from the $2,850 high and I will look for shorts down pic.twitter.com/U4TowvVBKL
— Crypto Tony (@CryptoTony__) January 29, 2026
Pergerakan ini mengikuti selloff yang tajam, dengan harga berkonsolidasi dalam rentang ketat antara sekitar $2.780 dan $2.840. Titik tertinggi yang lebih rendah dan penolakan berulang menunjukkan bahwa penjual masih memegang kendali. Pantulan harga baru-baru ini cenderung terlihat korektif daripada impulsif, yang berarti potensi kenaikan harga hanya bersifat sementara sebelum melanjutkan tren turun. Bahkan, dorongan singkat ke atas bisa bertindak sebagai "liquidity sweep" sebelum kelanjutan penurunan. Crypto Tony secara eksplisit menyatakan, "Ini adalah rentang yang saya perhatikan untuk Ethereum. Penolakan dari level tertinggi $2.850, dan saya akan mencari peluang short."
Kesimpulan: Revolusi yang Tertunda atau Potensi Jangka Panjang?
Meskipun Ethereum saat ini menghadapi tantangan harga dan terjebak dalam rentang konsolidasi, penting untuk melihat gambaran yang lebih besar. Analis melihat adanya revolusi Ethereum yang sedang terbentuk, didukung oleh fundamental yang kuat, inovasi teknologi berkelanjutan, dan potensi kejelasan regulasi di masa depan. Volatilitas jangka pendek adalah bagian tak terhindarkan dari pasar kripto, dan bagi investor di Indonesia, memahami dinamika ini adalah kunci untuk membuat keputusan investasi yang bijak. Baik itu menunggu penembusan atau akumulasi di level dukungan, kesabaran dan analisis yang cermat akan menjadi aset berharga dalam menavigasi pasar Ethereum yang kompleks.