Inovasi USG Portabel MIT: Deteksi Dini Kanker Payudara Lebih Mudah

Seorang wanita menggunakan perangkat ultrasound portabel inovatif dari MIT untuk deteksi dini kanker payudara, menunjukkan kemajuan teknologi medis.

Key Points

  • MIT mengembangkan sistem ultrasound portabel mini untuk deteksi dini kanker payudara yang lebih sering dan mudah.
  • Sistem ini terdiri dari probe kecil dan modul pemrosesan seukuran smartphone, mampu menghasilkan gambar 3D real-time.
  • Inovasi ini bertujuan mengatasi keterbatasan mesin USG tradisional yang besar dan mahal, serta membutuhkan teknisi terlatih.
  • Potensi besar untuk meningkatkan akses skrining, terutama di daerah pedesaan atau dengan keterbatasan infrastruktur medis, seperti di Indonesia.
  • Penelitian lebih lanjut dan pengembangan versi lebih kecil dengan dukungan AI sedang dilakukan untuk penggunaan di rumah.

Kanker payudara masih menjadi salah satu momok terbesar bagi kesehatan wanita di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Deteksi dini merupakan kunci utama untuk meningkatkan angka harapan hidup dan keberhasilan pengobatan. Namun, skrining yang sering dan menyeluruh seringkali terkendala oleh keterbatasan akses, biaya, dan peralatan yang tidak praktis. Kabar gembira datang dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), di mana para peneliti telah mengembangkan sistem ultrasound (USG) portabel yang revolusioner, berpotensi mengubah paradigma deteksi dini kanker payudara, membuatnya lebih mudah diakses dan lebih sering dilakukan, bahkan di rumah atau klinik sederhana.

Mengapa Deteksi Dini Sangat Penting dalam Penanganan Kanker Payudara?

Pentingnya deteksi dini tidak dapat dilebih-lebihkan dalam penanganan kanker payudara. Ketika kanker terdiagnosis pada stadium paling awal, tingkat kelangsungan hidup pasien bisa mendekati 100 persen. Angka ini turun drastis menjadi sekitar 25 persen jika tumor baru terdeteksi pada stadium lanjut. Ini menunjukkan betapa krusialnya setiap upaya untuk menemukan sel kanker sesegera mungkin.

Saat ini, mamografi adalah metode skrining umum yang menggunakan sinar-X. Meskipun efektif, tumor dapat berkembang di antara jadwal mamografi tahunan. Tumor-tumor ini, yang dikenal sebagai interval cancers, menyumbang 20 hingga 30 persen dari semua kasus kanker payudara dan cenderung lebih agresif. Untuk individu dengan risiko tinggi, pemeriksaan USG yang lebih sering di samping mamografi rutin dapat sangat membantu, namun ada banyak tantangan yang harus dihadapi.

Tantangan Deteksi Kanker Payudara Saat Ini di Indonesia

Di Indonesia, tantangan akses terhadap fasilitas skrining kanker payudara cukup kompleks. Mesin USG konvensional yang digunakan di rumah sakit memiliki ukuran besar, harga mahal, dan membutuhkan teknisi serta radiolog yang sangat terlatih untuk mengoperasikannya. Hal ini menjadi hambatan besar, terutama di daerah pedesaan atau daerah terpencil di Indonesia, di mana jumlah tenaga ahli dan ketersediaan peralatan medis modern masih terbatas. Akibatnya, banyak wanita di Indonesia mungkin tidak memiliki kesempatan untuk menjalani skrining yang cukup sering, padahal mereka mungkin memiliki faktor risiko tinggi.

  • Ketersediaan Akses: Banyak wilayah di Indonesia, khususnya di luar kota-kota besar, masih kekurangan fasilitas skrining kanker payudara yang memadai.
  • Biaya: Harga mesin USG tradisional yang tinggi berimbas pada biaya pelayanan yang juga tidak murah, memberatkan pasien.
  • Keterbatasan Tenaga Ahli: Jumlah teknisi USG dan radiolog yang mumpuni belum merata di seluruh Indonesia, menghambat pemanfaatan alat yang ada.
  • Ukuran dan Portabilitas: Mesin USG yang besar mempersulit mobilisasi untuk kegiatan skrining ke komunitas atau desa.

Inovasi USG Portabel dari MIT: Solusi Masa Depan

Menyadari celah ini, tim peneliti MIT yang dipimpin oleh Canan Dagdeviren, seorang profesor di media arts and sciences, mengembangkan sistem USG miniatur yang menjanjikan. Sistem baru ini terdiri dari sebuah probe USG kecil yang terhubung ke modul akuisisi dan pemrosesan data, ukurannya sedikit lebih besar dari sebuah smartphone. Ketika disambungkan ke laptop, sistem ini dapat merekonstruksi dan menampilkan gambar 3D sudut lebar secara real-time. "Semuanya lebih ringkas, dan itu bisa mempermudah penggunaan di daerah pedesaan atau bagi orang-orang yang mungkin memiliki hambatan terhadap teknologi semacam ini," ujar Dagdeviren.

Sebelumnya, pada tahun 2023, tim ini juga mengembangkan larik transduser USG fleksibel yang dapat ditempelkan pada bra, memungkinkan pengguna untuk menggeser pelacak USG di sepanjang patch dan memindai jaringan payudara dari berbagai sudut. Namun, sistem tersebut masih memerlukan mesin pemrosesan seukuran kulkas yang mahal. Dalam studi terbaru ini, fokusnya adalah menciptakan sistem yang sepenuhnya portabel dan mampu menghasilkan gambar 3D seluruh payudara hanya dengan memindai dua atau tiga lokasi.

Keunggulan Sistem USG Portabel Terbaru

Sistem yang baru dikembangkan ini, disebut chirped data acquisition system (cDAQ), menggunakan probe USG dengan susunan larik berbentuk kotak kosong yang memungkinkan pengambilan gambar 3D jaringan di bawahnya. Data ini kemudian diproses oleh motherboard seukuran smartphone dengan biaya produksi sekitar $300 saja, karena semua komponen elektroniknya tersedia secara komersial. Seluruh sistem dapat dihubungkan ke laptop untuk melihat gambar, menjadikannya sangat portabel dan hemat energi.

  • Portabilitas Tinggi: Ukuran yang ringkas memungkinkan penggunaan di mana saja, mulai dari rumah pasien, klinik di pelosok, hingga posyandu di Indonesia.
  • Biaya Efisien: Dengan biaya produksi motherboard yang rendah ($300), sistem ini jauh lebih terjangkau dibandingkan mesin USG tradisional yang bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.
  • Mudah Digunakan: Desain yang sederhana memungkinkan tenaga medis umum atau bahkan pasien sendiri (dengan pelatihan) untuk mengoperasikannya, mengurangi ketergantungan pada teknisi khusus.
  • Pencitraan 3D Akurat: Mampu memindai hingga kedalaman 15 sentimeter dan menghasilkan gambar 3D seluruh payudara dari beberapa titik, tanpa distorsi karena probe ditempatkan dengan lembut di atas kulit.
  • Hemat Daya: Dapat dioperasikan dengan pasokan daya DC 5V (baterai atau adaptor), mendukung penggunaan di lokasi dengan akses listrik terbatas.

Potensi Dampak Positif di Indonesia

Inovasi USG portabel dari MIT ini memiliki potensi transformatif yang luar biasa bagi Indonesia. Dengan geografis yang menantang dan penyebaran penduduk yang tidak merata, akses kesehatan, termasuk skrining kanker, seringkali menjadi masalah krusial. Sistem yang portabel, terjangkau, dan mudah digunakan ini dapat:

  • Memperluas Jangkauan Skrining: Memungkinkan pemeriksaan USG dilakukan di puskesmas, klinik desa, atau bahkan di rumah-rumah, menjangkau lebih banyak wanita di daerah terpencil yang sulit mengakses rumah sakit besar.
  • Meningkatkan Frekuensi Skrining: Bagi individu dengan risiko tinggi, skrining dapat dilakukan lebih sering tanpa harus menghadapi kendala logistik dan biaya.
  • Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat: Dengan teknologi yang lebih sederhana, program edukasi tentang deteksi dini dan penggunaan alat dapat lebih mudah diimplementasikan, memberdayakan komunitas untuk kesehatan mereka sendiri.
  • Efisiensi Anggaran Kesehatan: Investasi pada perangkat yang lebih terjangkau dapat mengalokasikan sumber daya ke area lain yang juga penting dalam penanganan kanker.

Langkah Selanjutnya dan Harapan Masa Depan

Saat ini, tim peneliti sedang melakukan uji klinis yang lebih besar di MIT Center for Clinical and Translational Research dan Massachusetts General Hospital. Mereka juga berupaya mengembangkan versi sistem pemrosesan data yang jauh lebih kecil, kira-kira seukuran kuku jari, yang dapat dihubungkan ke smartphone. Aplikasi smartphone ini bahkan akan dilengkapi dengan algoritma kecerdasan buatan (AI) untuk memandu pasien menemukan posisi terbaik untuk menempatkan probe USG.

Meskipun versi saat ini sudah bisa digunakan di praktik dokter, harapan terbesarnya adalah menciptakan versi yang lebih kecil lagi yang dapat diintegrasikan ke dalam sensor wearable untuk penggunaan di rumah bagi individu berisiko tinggi. Canan Dagdeviren sendiri sedang dalam proses mendirikan perusahaan untuk mengkomersialkan teknologi ini, didukung oleh berbagai hibah dan pusat kewirausahaan di MIT. Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam upaya global untuk memerangi kanker payudara, menawarkan harapan baru bagi jutaan wanita, termasuk di Indonesia, untuk mendapatkan deteksi dini yang lebih baik dan peluang kesembuhan yang lebih tinggi.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org