Koreksi Pasar Kripto: Likuidasi Rekor, ETH Terancam di Bawah $2K
Awal Februari 2026 dibuka dengan turbulensi signifikan di pasar kripto global, jauh dari kesan hari Senin yang biasa. Berbagai aset digital utama menghadapi tekanan jual yang masif, memicu gelombang likuidasi yang memecahkan rekor dan mengancam posisi Ethereum (ETH) di bawah ambang batas psikologis $2.000. Fenomena ini bukan sekadar koreksi pasar rutin, melainkan cerminan dari dinamika kompleks yang melibatkan faktor makroekonomi, sentimen investor, hingga intrik internal industri kripto itu sendiri.
Key Points
- Pasar kripto mengalami awal Februari yang bergejolak dengan likuidasi rekor sebesar $2,56 miliar pada 31 Januari 2026, sebagian besar menargetkan posisi long.
- Aset kripto utama seperti Bitcoin ($76.000), Ethereum ($2.200), dan Solana ($100) mengalami penurunan harga signifikan, dengan Ethereum ambles lebih dari 22% dalam seminggu.
- Aset tradisional seperti emas juga menunjukkan depresiasi tajam, memicu kekhawatiran yang lebih luas terhadap stabilitas pasar.
- Industri kripto diwarnai drama, termasuk tuduhan CEO OKX terhadap Binance terkait crash Oktober 2025 dan klaim manipulasi TRX oleh Justin Sun.
- Analisis teknis menunjukkan Ethereum berisiko turun ke $2.000, sementara Indeks Ketakutan dan Keserakahan berada di level "ketakutan ekstrem", yang secara historis sering mendahului stabilisasi pasar.
Gelombang Likuidasi Memecahkan Rekor: Awal Februari yang Menantang
Pembukaan bulan Februari menandai periode yang sangat menantang bagi pasar kripto, ditandai dengan angka likuidasi yang mencapai rekor. Pada tanggal 31 Januari 2026, total likuidasi di pasar kripto melonjak hingga $2,56 miliar, menjadikannya salah satu dari sepuluh hari likuidasi terbesar sepanjang sejarah. Mayoritas kerusakan ini, sekitar $2,41 miliar, ditanggung oleh posisi long, menunjukkan betapa banyak spekulan yang menggunakan leverage berlebihan bertemu dengan realitas pasar yang bergejolak.
Angka ini merupakan bagian dari tren yang lebih besar, mengingat total kapitalisasi pasar kripto telah menyusut sekitar $800 miliar sejak puncaknya pada Oktober 2025. Peristiwa likuidasi yang masif ini bukanlah hal baru dalam sejarah kripto. Beberapa kejadian besar sebelumnya termasuk:
- 10 Oktober 2025 ($19,16 Miliar): Likuidasi terbesar yang dipicu oleh tarif AS terhadap Tiongkok, menyebabkan Bitcoin anjlok singkat hingga $14.500.
- 18 April 2021 ($9,94 Miliar): Dipicu rumor tindakan keras AML AS dan larangan penambangan di Tiongkok.
- 19 Mei 2021 ($9,01 Miliar): Efek "angsa hitam" setelah Tesla membatalkan pembayaran BTC dan Tiongkok memperketat larangan kripto.
- 22 Februari 2021 ($4,10 Miliar): Koreksi tajam setelah tren naik yang terlalu panas di awal pasar bull 2021.
- 7 September 2021 ($3,65 Miliar): Terjadi saat El Salvador mengadopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran sah, memicu peristiwa "sell-the-news".
Bagi investor di Indonesia, lonjakan likuidasi ini menjadi pengingat penting akan volatilitas inheren pasar kripto dan pentingnya manajemen risiko yang cermat. Sentimen global yang tidak pasti ini dapat dengan cepat memengaruhi portofolio aset digital di pasar domestik, menekankan perlunya kehati-hatian dalam setiap keputusan investasi.
Aset Tradisional Ikut Goyah: Emas Terdepresiasi Signifikan
Kekacauan tidak hanya terbatas pada dunia kripto. Aset yang secara tradisional dianggap sebagai "tempat berlindung aman" (safe haven) juga menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Harga emas, misalnya, anjlok 4,5% hanya dalam satu hari dan lebih dari 17% dari titik tertinggi sepanjang masanya (ATH) beberapa hari sebelumnya. Saat ini, emas diperdagangkan di level $4.600 per ounce, menghapus hampir $2 triliun dari kapitalisasi pasar implikasinya dalam satu hari.
Jika sebuah aset yang telah dipuja sejak zaman Romawi bisa mengalami penurunan sedemikian rupa, muncul pertanyaan besar: apa yang akan terjadi pada aset kripto yang notabene jauh lebih muda dan volatil? Penurunan harga emas ini memperkuat narasi ketidakpastian ekonomi yang lebih luas, memengaruhi kepercayaan investor di berbagai kelas aset.
Aset Kripto Utama Terjun Bebas di Tengah Ketidakpastian
Di tengah gelombang likuidasi dan sentimen pasar yang suram, aset-aset kripto utama menunjukkan performa yang mengecewakan:
- **Bitcoin (BTC)**: Koin kripto terbesar ini merosot ke sekitar $76.000, turun 3% hanya dalam satu pembukaan pasar. Penurunan ini menambah tekanan pada pasar secara keseluruhan, mengingat perannya sebagai indikator utama.
- **Ethereum (ETH)**: Keadaan Ethereum lebih buruk, ambles lebih dari 22% dalam seminggu, diperdagangkan sekitar $2.200. Sebanyak $215 juta posisi long ETH telah dilikuidasi, menandakan tekanan jual yang signifikan dan risiko jatuh di bawah $2.000.
- **Solana (SOL)**: Mengalami penurunan lebih dari 5% hari ini, meluncur di bawah $100, dengan $36 juta likuidasi menyusul. Performa ini menyoroti kerentanan altcoin terhadap sentimen pasar negatif.
- **XRP**: Juga mengikuti tren penurunan, meskipun rincian spesifik likuidasinya tidak disebutkan secara eksplisit, indikasinya adalah tekanan serupa.
Penurunan kolektif ini mencerminkan kekhawatiran yang mendalam di kalangan investor, yang kini mempertanyakan kelanjutan "supercycle" yang sempat digembor-gemborkan.
Drama di Balik Layar Kripto: Tuduhan dan Kontroversi Menghiasi Pasar
Selain gejolak harga, pasar kripto juga diwarnai serangkaian drama dan kontroversi yang turut menambah kegelisahan investor:
Konflik OKX dan Binance
CEO OKX secara terbuka menuduh Binance berkontribusi pada crash pasar pada Oktober 2025. Menurut klaimnya, promosi USDe dengan APY 12% dari Binance mendorong praktik "leverage loop" yang tidak bertanggung jawab. Strategi ini, dikombinasikan dengan penggunaan kolateral berisiko, mengubah guncangan tarif menjadi likuidasi beruntun hampir $19 miliar. Tuduhan ini menyoroti pentingnya regulasi dan praktik pemasaran yang etis di industri yang masih berkembang pesat.
Skandal Justin Sun dan Dugaan Manipulasi TRX
Pendiri Tron, Justin Sun, menghadapi tuduhan serius dari mantan kekasihnya. Wanita tersebut mengklaim bahwa Sun melakukan manipulasi terkoordinasi terhadap harga TRX melalui berbagai akun Binance menggunakan identitas dan ponsel karyawan. Dengan bukti berupa tangkapan layar, log obrolan, dan kesaksian yang dilaporkan telah ditawarkan kepada regulator, skandal ini menambah lapisan ketidakpercayaan di pasar. Meskipun kebenarannya masih perlu dibuktikan, cerita ini telah menyulut kegelisahan lebih lanjut.
Michael Saylor dan Sorotan Baru
Michael Saylor, tokoh terkenal di komunitas Bitcoin, juga kembali menjadi sorotan dalam pengungkapan email Jeffrey Epstein yang tidak terkait dengan pasar kripto. Publicist Peggy Siegel menggambarkannya dengan cara yang kurang menyenangkan, meskipun ini tidak secara langsung memengaruhi pergerakan pasar, namun menambah narasi drama yang terus mengelilingi figur-figur penting di dunia kripto.
Rangkaian drama ini, terlepas dari validitasnya, berfungsi sebagai pengingat bahwa pasar kripto tidak hanya digerakkan oleh fundamental teknologi atau data ekonomi, tetapi juga oleh faktor manusia, persepsi, dan intrik internal yang dapat dengan mudah mengguncang sentimen investor.
Proyeksi Pasar Kripto: Mencari Stabilitas di Tengah Badai
Meskipun pasar dilanda tekanan jual dan drama, para analis mencoba membaca sinyal untuk proyeksi ke depan:
Analisis Teknis Ethereum dan Bitcoin
**Ethereum (ETH)**: Indeks Kekuatan Relatif (RSI) harian ETH saat ini berada di sekitar 32, menandakan kondisi oversold yang mendekat. Namun, indikator MACD (Moving Average Convergence Divergence) masih menunjukkan tren bearish yang kuat. Level dukungan di sekitar $2.200 sedang menahan tekanan berat, dan jika level ini tembus, risiko Ethereum jatuh menuju angka psikologis $2.000 akan semakin besar. Ini akan menjadi tantangan signifikan bagi keberlanjutan pemulihan harga.
**Bitcoin (BTC)**: RSI Bitcoin berada di sekitar 35, dengan level resistensi di sekitar $80.000 dan dukungan yang lebih kuat di dekat $70.000. Dominasi Bitcoin di pasar secara keseluruhan (Bitcoin Dominance) terus merangkak naik mendekati 60%, menunjukkan bahwa altcoin lebih banyak kehilangan nilai dibandingkan Bitcoin selama periode penurunan ini. Ini juga mengindikasikan bahwa investor cenderung beralih ke aset yang lebih mapan di tengah ketidakpastian.
Indeks Ketakutan dan Keserakahan
Indeks Ketakutan dan Keserakahan (Fear and Greed Index) telah anjlok ke angka 14, sebuah indikasi "ketakutan ekstrem" di pasar. Secara historis, periode ketakutan ekstrem seperti ini sering kali menjadi zona di mana pasar mulai stabil atau bahkan menemukan titik balik. Ini bisa diartikan sebagai sinyal kontrarian, bahwa peluang pemulihan mungkin ada di balik awan gelap ini, meskipun tidak ada jaminan.
Pasar kripto saat ini berada di persimpangan jalan: konsolidasi jika level dukungan penting berhasil dipertahankan, atau potensi penurunan lebih dalam jika berita buruk terus berdatangan. Namun, jika sejarah menjadi panduan, pemulihan sering kali mengikuti momen-momen sulit seperti ini. Angka likuidasi yang melonjak juga sebagian disebabkan oleh pertumbuhan dana yang lebih besar di industri, dan Bitcoin sendiri telah meningkat lebih dari 5 kali lipat sejak titik terendah tahun 2022 hingga mencapai ATH. Dengan demikian, situasi ini tidak sepenuhnya tanpa harapan, namun gelombang likuidasi telah membuktikan bahwa harapan tanpa manajemen risiko yang solid hanyalah leverage yang menyamar. Bagi investor di Indonesia, memahami dinamika ini krusial untuk membuat keputusan yang bijak.
Pada akhirnya, pasar kripto terus menunjukkan karakternya yang fluktuatif dan penuh kejutan. Selalu ada pelajaran yang bisa dipetik dari setiap guncangan, terutama tentang pentingnya riset mendalam dan strategi investasi yang disiplin. Ini mungkin hanya "manic Monday" lainnya, atau mungkin awal dari sesuatu yang lebih signifikan. Hanya waktu yang akan menjawab.