Volatilitas Kripto: Turbulensi Makro dan Dorongan Struktural
Poin-Poin Utama
- Pasar kripto, termasuk Bitcoin, akan tetap volatil di tahun 2026, tetapi volatilitas ini tidak sama dengan stagnasi; lebih merupakan fase konsolidasi dan ekspansi infrastruktur.
- Adopsi institusional yang kian mendalam melalui kendaraan investasi teregulasi dan integrasi portofolio dapat mendorong apresiasi harga dan bahkan memicu rekor tertinggi baru.
- Kondisi makroekonomi dan ketidakpastian politik berpotensi membuat pasar kripto bergerak dalam rentang tertentu, dengan Bitcoin berfungsi sebagai aset makro yang responsif terhadap imbal hasil riil dan sentimen risiko.
- Geopolitik memperkuat karakter ganda kripto: volatil dalam jangka pendek namun memperkuat kasus aset digital non-negara dalam jangka panjang.
- Untuk stablecoin, fragmentasi geopolitik mendorong peningkatan permintaan akan alat penyelesaian lintas batas yang efisien dan pengawasan kualitas cadangan yang lebih ketat.
Pasar aset digital, yang dipimpin oleh Bitcoin, telah lama dikenal dengan karakteristik volatilitasnya. Namun, di balik fluktuasi harga yang sering kali dramatis, ada narasi yang lebih kompleks tentang bagaimana faktor makroekonomi dan fundamental struktural saling berinteraksi membentuk lanskap kripto. Stella Zlatareva, Senior Communications Manager Nexo, dalam wawancara eksklusif dengan 99Bitcoins.com, memberikan pandangan yang menarik mengenai dinamika ini, menekankan bahwa meskipun pasar tetap rentan terhadap gejolak makro, ada pendorong struktural yang kuat yang terus menopang kelas aset ini.
Volatilitas Bukan Stagnasi: Memahami Dinamika Pasar Kripto
Zlatareva menegaskan bahwa tahun 2026 kemungkinan besar akan diwarnai oleh volatilitas. Namun, penting untuk tidak mengacaukan volatilitas dengan stagnasi. Pandangan ini menyiratkan bahwa pergerakan harga yang naik turun bukan berarti pasar tidak berkembang atau tidak menawarkan peluang. Sebaliknya, pasar kripto justru berada dalam fase konsolidasi harga yang berdampingan dengan ekspansi berkelanjutan dalam infrastruktur pasar, peningkatan kepemilikan jangka panjang, dan pendalaman produk.
Bagi investor di Indonesia, pemahaman ini sangat relevan. Di tengah minat yang terus bertumbuh terhadap aset kripto, terutama di kalangan generasi muda, fluktuasi harga sering kali menjadi perhatian utama. Namun, seperti yang dijelaskan Nexo, volatilitas adalah bagian inheren dari proses pematangan pasar ini. Seiring dengan perkembangan regulasi dan infrastruktur yang lebih kuat, pasar kripto di Indonesia, misalnya, juga akan mengalami fase konsolidasi yang akan membedakan aset-aset yang memiliki utilitas nyata dan ekosistem yang kuat.
Adopsi Institusional: Katalisator Pertumbuhan Jangka Panjang
Salah satu pendorong struktural utama yang ditekankan adalah keterlibatan institusional yang lebih dalam. Jika adopsi institusional semakin cepat melalui kendaraan investasi yang teregulasi, alokasi neraca, dan integrasi portofolio, modal tersebut tidak hanya akan mendorong apresiasi harga, tetapi juga membentuk kembali struktur pasar. Hal ini akan memperpanjang horizon kepemilikan dan meningkatkan likuiditas.
Di Indonesia, kita telah melihat tanda-tanda awal adopsi institusional, meskipun masih dalam skala kecil dibandingkan negara maju. Bank-bank dan lembaga keuangan lain mulai menjajaki teknologi blockchain dan aset digital. Jika tren ini berlanjut dan diperkuat oleh kerangka regulasi yang jelas dari otoritas seperti Bappebti dan OJK, aliran modal yang masuk dapat memberikan dorongan signifikan. Dalam skenario ini, potensi kenaikan harga, termasuk kemungkinan mencapai rekor tertinggi baru, menjadi lebih masuk akal dan berkelanjutan.
Pengaruh Makroekonomi dan Kebijakan Moneter Global
Zlatareva juga menyoroti bahwa Bitcoin dan pasar kripto yang lebih luas tetap terpapar turbulensi makroekonomi. Jika ketidakpastian makroekonomi dan politik tetap menjadi kekuatan dominan, pasar kripto mungkin akan terus bergerak dalam rentang harga tertentu. Dalam lingkungan seperti itu, Bitcoin semakin berperilaku seperti aset makro, yang merespons imbal hasil riil, ekspektasi likuiditas, dan sentimen risiko, alih-alih dinamika murni siklus.
Sinyal utama kemungkinan besar akan datang dari kebijakan moneter global. Pergeseran yang jelas oleh Federal Reserve AS menuju pelonggaran kembali, atau intervensi signifikan oleh Bank of Japan, secara material akan meningkatkan kondisi likuiditas global dan mendukung aset-aset berisiko, termasuk aset digital. Tanpa perubahan tersebut, konsolidasi harus dipandang bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai tanda kematangan pasar.
Bagi Indonesia, kebijakan moneter bank sentral utama dunia memiliki dampak tidak langsung namun signifikan. Ketika ada pelonggaran kebijakan, modal seringkali mencari aset dengan potensi keuntungan lebih tinggi, termasuk kripto. Investor di Indonesia perlu memantau perkembangan ini untuk membuat keputusan yang terinformasi.
Geopolitik: Memperkuat Karakter Ganda Kripto
Geopolitik, alih-alih merusak, justru memperkuat karakter ganda kripto. Dalam jangka pendek, Bitcoin kemungkinan akan tetap volatil, sering bereaksi tajam terhadap perubahan sentimen risiko dan kondisi likuiditas yang dipicu oleh perkembangan geopolitik. Namun, semakin lama, Bitcoin berfungsi sebagai barometer makro real-time, dengan cepat menilai ekspektasi seputar pelonggaran moneter, ekspansi fiskal, atau tekanan sistemik.
Dalam konteks itu, volatilitas mencerminkan integrasi yang berkembang ke dalam sistem keuangan global, bukan kerapuhan. Selama horizon yang lebih panjang, ketidakpastian kebijakan yang persisten, tekanan fiskal yang meningkat, dan ketidakstabilan mata uang terus memperkuat argumen untuk aset digital non-negara.
Fragmentasi Geopolitik dan Implikasinya bagi Stablecoin
Untuk stablecoin, fragmentasi geopolitik mendorong peningkatan permintaan akan alat penyelesaian lintas batas yang efisien dan pengawasan kualitas cadangan yang lebih ketat. Dinamika tersebut menempatkan nilai yang semakin tinggi pada kepercayaan, transparansi, dan keselarasan regulasi. Di Indonesia, stablecoin mulai mendapatkan perhatian sebagai alat pembayaran atau medium pertukaran. Dengan adanya regulasi yang jelas dan transparan mengenai cadangan stablecoin, kepercayaan publik dan institusional akan meningkat, mendukung adopsi yang lebih luas.
Secara lebih luas, pasar kripto sedang memasuki fase pematangan lebih lanjut. Periode volatilitas cenderung mempercepat diferensiasi, mendukung aset dan platform yang tertanam dalam ekosistem yang kuat, menyediakan utilitas yang jelas, dan beroperasi dalam kerangka regulasi yang berkembang. Seiring waktu, proses tersebut memperkuat fondasi pasar dan mendukung pertumbuhan jangka panjang yang lebih tahan lama.
Nexo dan Kolaborasi Strategis di Dunia Balap
Nexo sendiri menunjukkan komitmen terhadap standar transparansi dan kualitas cadangan, yang diperkuat oleh regulasi seperti GENIUS Act. Nexo melihat kepercayaan dan keberlanjutan sebagai pendorong utama pertumbuhan jangka panjang. Keterjelasan regulasi ini pada akhirnya mendukung platform yang dirancang untuk pengguna jangka panjang, bukan yang bergantung pada kondisi pasar sementara.
Sebagai Mitra Aset Digital Resmi eksklusif dari Tim Audi Revolut F1, Nexo melangkah lebih jauh dari sekadar branding untuk memberikan utilitas teknis kepada basis penggemar global yang berjumlah 827 juta. Kemitraan ini dibangun di atas kekuatan infrastruktur institusional platform Nexo, yang saat ini mengelola aset senilai $11 miliar dan telah memproses volume transaksi lebih dari $371 miliar serta kredit beragunan yang diterbitkan.
Fokus mereka adalah pada tiga area integrasi utama: solusi likuiditas, eksekusi presisi, dan keamanan tingkat institusional. Dengan bergabung sebagai mitra pendiri proyek Audi F1 sejak hari pertama, Nexo memastikan bahwa aset digital menjadi bagian dari arsitektur teknis tim, bukan hanya bagian dari tampilan. Ini adalah contoh nyata bagaimana perusahaan kripto berintegrasi dengan dunia nyata, menunjukkan potensi besar aset digital melampaui spekulasi harga semata. Di Indonesia, model kemitraan semacam ini dapat menjadi inspirasi bagi perusahaan lokal untuk menjajaki sinergi antara teknologi blockchain dan industri lain.
Sebagai penutup, lanskap pasar kripto memang penuh tantangan dan peluang. Meskipun turbulensi makroekonomi akan terus menjadi faktor, dorongan struktural seperti adopsi institusional yang meningkat, kejelasan regulasi, dan inovasi yang berkelanjutan memberikan dasar yang kuat untuk pertumbuhan jangka panjang. Investor di Indonesia, dengan memahami dinamika ini, dapat mengambil keputusan yang lebih strategis dan berpartisipasi dalam evolusi keuangan digital dengan lebih percaya diri.