Skandal Trove Crypto: Rug Pull, Dari Hyperliquid ke Solana, TROVE Anjlok 95%

Grafik harga TROVE USDT yang anjlok tajam hingga 95%, menggambarkan kerugian besar akibat dugaan rug pull Trove di pasar kripto.

Key Points:

  • Proyek kripto Trove melakukan "rug pull" setelah menghimpun jutaan dolar, membuat nilai token TROVE anjlok hingga 95%.
  • Trove secara mendadak mengumumkan perpindahan dari platform Hyperliquid ke Solana, mengecewakan investor yang menanam modal pada proyek berbasis Hyperliquid.
  • Terdapat indikasi "red flag" sejak awal, termasuk spekulasi perdagangan orang dalam selama penawaran koin perdana (ICO) Trove.
  • Dana yang dihimpun diduga disalahgunakan, termasuk pengiriman ke alamat kasino dan pembayaran kepada influencer (KOL).
  • Coinbase mencoba mengatasi masalah "rug pull" melalui platform Token Sale mereka yang mengharuskan audit ketat dan transparansi untuk proyek baru.

Dunia investasi aset digital atau kripto seringkali diwarnai janji-janji manis akan keuntungan fantastis, namun juga tak luput dari risiko besar. Salah satu skenario terburuk yang bisa menimpa investor adalah fenomena “rug pull”, di mana pengembang proyek tiba-tiba menghilang atau menarik semua likuiditas, meninggalkan investor dengan token yang tak berharga. Ini adalah pelajaran pahit tentang pentingnya riset mendalam dan kehati-hatian, terutama di pasar yang bergerak cepat dan belum sepenuhnya teregulasi seperti di Indonesia.

Tahun 2025 mencatat angka kerugian yang signifikan akibat “rug pull”, dengan total lebih dari $6 miliar hilang secara global. Salah satu kasus terbesar adalah keruntuhan Mantra (OM) pada April 2025, yang nilai pasarnya ludes hingga $6 miliar hanya dalam 24 jam. Ini menunjukkan betapa rapuhnya kepercayaan di ekosistem kripto, di mana proyek bisa runtuh dalam sekejap mata.

Trove: Dari Janji Inovasi Hingga Tanda Peringatan Awal

Belum lama ini, komunitas kripto kembali dihebohkan dengan kasus Trove. Proyek ini awalnya digadang-gadang sebagai pertukaran terdesentralisasi (DEX) inovatif yang dibangun di atas Hyperliquid menggunakan protokol HIP-3. Tujuan mereka cukup unik: memungkinkan perdagangan berjangka perpetual untuk “aset budaya” yang tidak likuid, seperti kartu Pokémon dan jam tangan mewah. Untuk meluncurkan proyek di Hyperliquid, Trove diwajibkan menyetor 500.000 HYPE sebagai jaminan keamanan. Dengan visi yang menjanjikan, mereka berhasil mengamankan mitra untuk jaminan tersebut dan dalam hitungan hari, berhasil mengumpulkan lebih dari $11 juta melalui Penawaran Koin Perdana (ICO) dari komunitas, guna mendanai integrasi dan likuiditas.

Namun, bagi investor yang jeli, sebenarnya sudah ada beberapa tanda peringatan atau “red flag” bahkan sebelum “rug pull” ini terjadi. Selama periode ICO, tim Trove sempat memperpanjang batas waktu penjualan, kemudian membatalkannya secara mendadak. Keputusan ini menyebabkan kerugian besar bagi para trader di Polymarket yang bertaruh pada jumlah dana akhir yang akan terkumpul. Muncul spekulasi bahwa orang dalam Trove telah memasang taruhan yang “sempurna” berdasarkan perubahan mendadak ini, mengindikasikan adanya manipulasi informasi demi keuntungan pribadi. Meskipun ICO Trove berhasil mengumpulkan dana maksimal (oversubscribed), kecurigaan ini sudah menodai reputasi proyek sejak awal.

Perpindahan Mendadak ke Solana dan Dampaknya

Situasi berubah drastis pada 19 Januari. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, tim Trove mengumumkan bahwa mereka meninggalkan Hyperliquid dan akan beralih ke blockchain Solana. Alasan yang diberikan adalah "mitra likuiditas" menarik kembali 500.000 HYPE yang dibutuhkan untuk jaminan. Pengumuman ini sontak membuat investor marah besar, mengingat mereka secara spesifik menanamkan modal pada proyek yang dijanjikan berbasis Hyperliquid. Setelah pengumuman ini, dompet yang terhubung dengan tim Trove mulai secara agresif membuang ikatan jaminan mereka. Akibatnya, nilai HYPE USDT anjlok dari di atas $26 ke harga spot, dan tetap di bawah tekanan, memperpanjang kerugian minggu itu hingga hampir -7%.

Hingga saat artikel ini ditulis, belum ada penjelasan solid dari tim Trove mengenai alasan sebenarnya di balik perpindahan platform ini. Meskipun mereka meminta waktu lebih untuk memproses pengembalian dana kepada investor melalui platform X, investigasi lebih lanjut mengungkapkan bahwa tim Trove diduga mengirimkan sebagian dana ICO ke kasino dan kepada Key Opinion Leaders (KOL), tanpa adanya rencana konkret untuk pengembalian dana kepada para investor. Ini memicu kekhawatiran serius tentang penyalahgunaan dana dan integritas tim pengembang.

Bagi investor yang mengharapkan keuntungan cepat, token TROVE akhirnya runtuh setelah diluncurkan pada 19 Januari, mencatat penurunan hingga 95%. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan volatilitas dan risiko inheren dalam investasi kripto, terutama pada proyek-proyek baru yang kurang transparan.

Mencari Solusi: Pendekatan Coinbase untuk Mencegah Rug Pull

Fenomena "rug pull" seolah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap kripto, dan terkadang bahkan uji tuntas (due diligence) yang cermat pun tidak cukup untuk menghindarinya. Sebelumnya, pada September, HyperVault, agregator yield di Hyperliquid, tiba-tiba menguras hampir $4 juta deposito pengguna. Situs web dan media sosial mereka langsung menghilang, dan dana kemudian dipindahkan ke Ethereum, ditukar menjadi ETH, lalu dicuci melalui Tornado Cash. Kasus-kasus seperti ini menggarisbawahi perlunya mekanisme perlindungan yang lebih kuat bagi investor.

Menyadari risiko-risiko ini, Coinbase, salah satu bursa kripto terbesar di dunia, meluncurkan platform Token Sale pada November. Meskipun tujuan utamanya adalah menyediakan cara yang patuh bagi startup untuk mengumpulkan modal, platform ini dirancang secara khusus untuk mengatasi masalah “rug pull” dan “pump-and-dump” yang telah lama melanda industri. Dengan menjadi “penjaga gerbang”, Coinbase mewajibkan setiap proyek yang ingin menggalang dana untuk melewati audit ketat dan membuat pengungkapan publik mengenai tim, keuangan, dan tokenomics mereka sebelum diizinkan listing. Untuk mencegah “rug pull”, Coinbase juga menerapkan jadwal vesting atau penguncian token untuk alokasi tim dan pihak-pihak terafiliasi, memastikan bahwa mereka tidak dapat langsung membuang token dalam jumlah besar dan merugikan investor ritel.

Upaya seperti yang dilakukan Coinbase ini diharapkan dapat meningkatkan standar keamanan dan transparansi di pasar kripto. Bagi investor di Indonesia, yang juga sering terpapar pada berbagai proyek kripto baru, pembelajaran dari kasus Trove dan solusi yang ditawarkan Coinbase menjadi sangat relevan. Penting bagi kita untuk selalu mencari platform dan proyek yang memiliki rekam jejak transparansi, regulasi yang jelas, serta mekanisme perlindungan investor yang kuat, demi menghindari kerugian yang tidak terduga.

Pelajaran Berharga bagi Investor Kripto

Kasus Trove sekali lagi membuktikan bahwa pasar kripto adalah arena yang penuh potensi, namun juga sarat risiko. Kepercayaan adalah aset paling berharga, dan ketika kepercayaan itu dikhianati, dampaknya bisa sangat merugikan. Bagi investor, khususnya di Indonesia yang sedang berkembang pesat dalam adopsi aset digital, penting untuk selalu menerapkan prinsip kehati-hatian, diversifikasi, dan tidak mudah tergiur janji keuntungan instan. Selalu lakukan riset mendalam (DYOR - Do Your Own Research) terhadap tim proyek, roadmap, tokenomics, dan komunitas sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Mekanisme pengamanan seperti yang diterapkan Coinbase bisa menjadi referensi, namun kewaspadaan pribadi tetap menjadi benteng utama.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
sr7themes.eu.org